Sabtu, Juli 13, 2024

Jabatan Pj Bupati Aceh...

ACEH UTARA - Masa jabatan Penjabat Bupati Aceh Utara, Dr. Mahyuzar, genap satu...

Panwaslih Aceh Instruksikan Buka...

BANDA ACEH - Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Aceh menginstruksikan Panwaslih Kabupaten/Kota segera membuka...

KAMMI Sebut Perlu Forum...

BANDA ACEH - Pengurus Daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Banda Aceh...

Atlet Popda Gayo Lues...

BLANGKEJEREN - Pertandingan POPDA ACEH ke-XVII yang sedang berlangsung saat ini menjadi perhatian...
BerandaNasihat yang Jarang...

Nasihat yang Jarang Disampaikan Kepada Kedua Mempelai

Oleh Taufik Sentana

?(Bergiat di Ikatan Dai dan Bina Potensi Umat)

Selepas Ramadan lalu terasa banyak sekali undangan walimahan (resepsi nikah) pada bulan Syawalnya. Biasa begitu hingga puncaknya pada bulan Dzulhijjah. “masih ada sebelasan undangan lagi yang saya tempel di mading rumah”, kata seorang teman di sela acara kenduri aqiqah.

Di lini status WA juga sering terpajang photo 
acara akad nikah dan walimahnya. Beberapa ada muncul komentar bahwa yang 'berani itu adalah yang tidak pacaran, segera menikah, apalagi ini masih di bulan syawal'.

Jadi karena terasa kali bahwa bulan ini sebagai bulan nikahan, ada baiknya penulis tuturkan beberapa nasihat (semoga penting) bagi kedua mempelai, yang nasihat ini termasuk jarang sekali disampaikan. Walaupun bisa saja ada kesamaan dengan beberapa buku panduan pra nikah. Dan syukurnya buku buku itu banyak. Tapi karena zaman sudah begitu digitalis, agaknya buku sudah jarang dibuka.

Pertama, Teruslah belajar mengenal dan memahami. Karena pribadi dan individu itu dinamis. Lamanya saling kenal” tidak menjamin hubungan itu utuh. Mesti selalu terbangun saling percaya dan menjaga komitmen (nikah sebagai janji yang berat disebut dalam Quran). 

Perhatikanlah setiap perubahan perilaku dan bicarakan atau tanggapi dengan sudut pandang menghargai bukan mengajari. Bahkan waktu 23 tahun masih belum cukup untuk mengenal, begitu sebut seorang guru saya.

Kedua, dari segi individu, lelaki umumnya lebih ingin dianggap berharga dan diakui. Sedang perempuan lebih ingin dipuji secara lisan dan diperhatikan dengan detil. Namun, beratnya , masing masing memiliki cara ungkap yang khas. Si perempuan lebih senang bicara panjang lebar sedang di lelaki memerlukan bicara yang ringkas. Disinilah seni interaksinya. Bisa saja si suami hobi mancing sementara si si istri hobi menanam bunga/sayuran: bagaimana membangun ruang dialog dan pengertian diantara hobi yang berbeda itu?

Ketiga, secara filosofis/spiritualis, hubungan resmi kedua mempelai, sama halnya seperti hubungan segitiga, semakin dekat mereka berdua kepada Allah (vertikal) maka semakin dekatlah keduanya (menyatu) dalam keteguhan, keyakinan dan kesabaran. Bila semakin jauh dari ketaatan dan kebaikan yang Allah Tuntun maka semakin jauhlah hubungan keduanya.

 Maka sangat indah bila keduanya bisa selalu saling mendoakan sepanjang waktu  sambil memupuk rindu sebaik mungkin.

Wallahu A'lam.[]

Baca juga: