Oleh: Taufik Sentana*

Tiada awan putih menggantung
orang orang sibuk menghitung
tentang kawan dan perlawanan.

Hutan hutan teduh telah dibajak, dirambah, dan kayu kayunya menjadi hiasan.
Tanah tanah menjadi rapuh, ekosistim jadi gaduh.

Negeri mendung menatap
tabiat kuasa yang rakus bersantap.
Hujan turun menjadi asam.
Angin merambah menjadi getir.
kesatuan menjadi makna sempit
dalam sekat sekat kepentingan sendiri.

Sungai sungai mengalir dengan harapan yang panjang dan jauh. Tepiannya tanaman tanaman kecil merambat, memanjati gedung gedung, meratapi pintu pintu keangkuhan: orang orang mengepal tangan mereka untuk sesuatu yang tak bisa mereka bayangkan.[]

*Peminat prosa