BLANGKEJEREN – Forum Parlemen Jalanan (FPARAL) Kabupaten Gayo Lues meminta pemerintah mempertimbangkan penempatan Kantor Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) yang dipindahkan dari Sumatra Utara ke Provinsi Aceh. Sebaiknya lokasi Kantor BBTNGL tidak berjauhan dengan hutan Leuser.
Pernyataan itu disampaikan Riky Udayara, Aktivis FPARAL, Kamis, 18 Februari 2021. Dia menilai Kantor BBTNGL lebih tepat dibangun di Kabupaten Gayo Lues lantaran Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Aceh yang paling luas berada di Gayo Lues.
“Dengan berkantornya BBTNGL di Gayo Lues akan memudahkan pemerintah untuk mengamati dan mengontrol secara langsung kondisi TNGL saat ini. TNGL juga dapat lebih dekat dengan masyarakat yang tinggal di seputaran kawasan TNGL yang notabenenya adalah penerima mamfaat langsung atas setiap program-program pemerintah melalui BBTNGL,” kata Riky melalui pesan WhatsApp.
Menurut Riky, pemindahan Kantor BBTNGL dari Sumatra ke Ibukota Provinsi Aceh malah lebih menjauhkan rentang kendali menuju hutan Leuser terluas di Aceh. Jika dari Sumatera Utara jarak ke pusat TNGL hanya 200-300 Km, ketika BBTNG berakntor di Banda Aceh akan berjarak 400-500 Km menuju pusat TNGL.
“Masalah kantor memang bukan menjadi patokan utama, asalkan komitmen menjaga hutan Leuser dan menyejahterakan masyarakat yang tinggal di kaki hutan Leuser bisa terpenuhi. Namun lebih tepatnya, Kantor BBTNGL jauh lebih baik jika berada di kawasan tempat tinggal masyarakat yang selama ini menjaga hutan Lindung,” tuturnya.
FPARAL juga mendesak Anggota DPR RI dari Komisi IV, H. Irmawan dan Fahri yang merupakan putra asli kaki gunung Leuser, agar ikut memperjuangkan penempatan Kantor BBTNGL di tempat yang semestinya, tidak terlalu jauh dari TNGL.
“Letak Kantor BBTNGL berada di Gayo Lues adalah bukti nyata keseriusan pemerintah untuk menjamin keselamatan TNGL itu sendiri, dan memerhatikan masyarakat yang berada di seputaran kawasan TNGL,” kata Riky.
Berdasarkan pantauan FPARAL, kata Riky, kondisi TNGL di Gayo Lues saat ini sudah sangat mengkhawatirkan karena secara terus menerus dilakukan perambahan oleh oknum yang tidak peduli dan paham tentang fungsi hutan. Hal ini juga tidak bisa dipungkiri karena faktor ekonomi masyarakat tidak begitu baik, dan TNGL belum memiliki solusi kongkret tentang itu.
“Jadi perambahan hutan di Gayo Lues dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup masyarakat yang terus berlangsung, karena di kawasan TNGL yang sudah ditebang, masyarakat menanam kopi, serai wangi, jahe dan tanaman lainya,” ucap Riky.[]




