Oleh Taufik Sentana
Sebagian besar warga dunia tentu disibukkan dengan momen pergantian tahun, dan itu lazim terjadi. Hanya saja lama kelamaan, kebiasaan khusus di tahun malam tahun baru Masehi menjadi kultur baru di masyarakat timur, katakanlah Indonesia.
Suasana pergantian tahun itu semakin mendapatkan tempat tatkala media televisi telah semakin banyak bermunculan sejak tahun 90 an (apalagi sekarang ini), sehingga masyarakat seakan diajarkan bagaimana semestinya kita sebagai “warga dunia” menatap pergantian tahun. Maka semua energi seakan terfokus pada malam tersebut, dengan beragam rencana, acara dan ritusnya. Sebagian besarnya hanya merupakan hura hura dan kesenangan semata, bahkan sangat rentan terhadap pergaulan bebas. Sebab kebiasaan ini murni diadopsi dari Barat dengan paham materi dan liberasi.
Oleh karena itu, walaupun secara falsafi pergantian tahun Masehi tidaklah lebih penting dibanding pergantian Hijriyah yang sarat akan perjuangan Rasul Muhammad SAW. Beberapa Ulama Syafiiyah sangat mendorong untuk mengadakan semacam “program” tandingan dengan makna yang lebih religi, luhur dan bermakna. Baik program yang berbasis masjid ataupun kegiatan yang lebih bersifat muhasabah dan pengingat akan kebesaran dan nikmat Allah. Hal ini dilakukan agar di benak masyarakat Islam khususnya, tidak terkontaminasi dengan gaya Eropa dan Barat yang hanya mengedepankan kesenangan belaka.
Maka beberapa tahun belakangan ini, sering kita saksikan adanya komunitas dan lembaga bahkan anjuran resmi tentang bagaimana menyikapi malam pergantian tahun Masehi. Sebagian memusatkan kegiatan di masjid, sebagian lagi dengan tabligh atau kegiatan lainnya yang mengundang khalayak untuk datang.
Sesungguhnya nilai pergantian tahun baru tidak memberikan dampak apapun selama kesadaran individu tidak terbentuk, apalagi dengan minimnya dukungan pemerintah. Sebab pergantian tahun sama halnya dengan pergantian hari-hari, ia akan terus terjadi dan perlu dimaknai sepanjang waktu: Bukan hanya dirayakan di awal tahun.
Pergantian tahun ini kita maknai dengan harapan yang lebih baik dalam menyelaraskan tujuan hidup sebagai muslim dan sebagai warga dunia. Dengan memaksimalkan karya, rasa persaudaraan dan rasa syukur atas nikmat waktu yang diberikan Allah.[]
Ikatan Dai Indonesia
Guru SMPIT Teuku Umar dan MTs. Harapan Bangsa. Menetap di Aceh Barat.






