ACEH UTARA – Geuchik Gampong Kilometer VIII Kecamatan Simpang Keuramat, Mahyeddin Abubakar, menyambut baik kerja sama Pemkab Aceh Utara dengan Atsiri Research Centre (ARC) Unsyiah yang telah menyusun peta jalan (roadmap) Sistem Inovasi Daerah (SIDa) untuk pengembangan agribisnis tanaman nilam di Aceh Utara.
Hal itu disampaikan Mahyeddin Abubakar akrab disapa Nyak Din dalam Focus Group Discussion (FGD) di Oproom Setda Aceh Utara, belum lama ini.
Mengusung tema “Diseminasi Roadmap Sistem Inovasi Daerah (SIDa) Kabupaten Aceh Utara 2019”, FGD itu dihadiri kepala Bappeda Aceh Utara, kepala Dinas Perkebunan, Perternakan, dan Kesehatan Hewan, kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi, dan UKM, kepala Dinas Penanaman Modal, Transmigrasi, dan Tenaga Kerja Aceh Utara, Camat Nisam Antara, Camat Kuta Makmur, Camat Simpang Kramat, kelompok tani, akademisi Unimal serta LSM di Aceh Utara.
Dalam FGD itu, tim ARC Unsyiah diwakili Dr. Syaifullah Muhammad, S.T., M.Eng., dan Yasser Premana, yang telah membangun kerja sama ekspor minyak nilam dengan beberapa perusahaan dari Perancis.
Nyak Din di hadapan tim Unsyiah secara tegas mengungkapkan bahwa dirinya selaku kepala pemerintahan salah satu gampong di Aceh Utara siap menerima tawaran ARC untuk pengembangan SIDa tersebut.
Namun, Nyak Din meminta Pemkab Aceh Utara untuk lebih serius dalam membantu para petani salah satu tanaman penghasil minyak atsiri di gampongnya yang telah berkembang sejak tahun 1996 silam. Bahkan, menurut dia, pada 1998 dampak puncaknya krisis moneter dunia tidak dirasakan oleh petani nilam di sana. Pasalnya, saat itu harga minyak nilam di atas Rp1 juta/kg.
Menurut Nyak Din, nilam Aceh Utara varietas Lhokseumawe berada di peringkat kedua terbaik dunia berdasarkan SK Menteri Pertanian nomor: 320/Kpts/SR.120/8/2005 dengan daya produktivitas terna 42,59 – 64,67 ton/ha. Sementara produksi minyak 273,49 – 415,65 kg/ha. Dengan kandungan kadar pathchouli alcohol 34,46 persen.
“90 persen kebutuhan minyak nilam dunia itu dipasok dari Indonesia, dan 70 persennya berasal dari Aceh. Nilam Aceh (pogostemon cablin benth) merupakan nilam unggul dengan kualitas terbaik di dunia karena menghasilkan minyak dengan rendemen 3 persen dan kandungan patchouly alcohol (pa) di atas 30 persen. Minyak nilam ini mutlak dibutuhkan dalam industri parfum sebagai bahan fixatif pengikat aroma, sehingga wanginya bisa bertahan lebih dari 12 jam,” ungkap Nyak Din melalui keterangan tertulis diterima portalsatu.com, 20 November 2019.

(Nyak Ih, rekan Nyak Din menunjukkan parfum ''Mangat Bee”. Foto: Nyak Din)
Pasca-FGD yang diikutinya tersebut, Geuchik yang telah menghasilkan produk Kerupuk Jengkol Bratana itu, bersama Kader Pembangunan Manusia Gampong (KPM – G) langsung mengimplementasikan racikan parfum dengan kandungan minyak nilam sebagai pengikat aroma.
Bermodalkan jerih triwulan ketiga tahun 2019 yang diterimanya, parfum “Mangat Bee” Produk UPPKS (Usaha Peningkatan Perekonomian Keluarga Sejahtera) KM VIII – Simpang Keuramat yang dipromosikan lewat jejaring media sosial banyak mengundang komentar positif. Racikan geuchik itupun mulai dilepas ke pasar sejak 18 November 2019. “Meski belum mengantongi izin resmi,” ujar Nyak Din.
Namun, menurut Nyak Din, bahan-bahan yang terkandung di dalam racikan minyak wangi tersebut salah satunya adalah cetearyl alcohol yang merupakan jenis alkohol nonkhamr dan mendapat sertifikasi halal dari LPPOM-MUI.
Sementara itu, Tgk. Nazaruddin, S.Sos.I, M.Ag., anggota DPR-K Aceh Utara asal Simpang Keuramat mengapresiasi dan mendukung penuh kreativitas yang ditunjukkan Geuchik Kilometer VIII tersebut..
“Dalam waktu dekat ini saya akan bantu untuk pengurusan izin dan sertfikasi halal di LPPOM-MUI terhadap produk kreativitas Geuchik Din ini. Hal ini kiranya tidak merupakan tindakan yang berlebihan, melainkan ini sebuah perubahan mindset yang ditunjukkannya untuk peningkatan ekonomi masyarakat,” pungkas Tgk. Nazar.[](rilis)





