Bagi umat Islam, Nisfu Sya’ban jadi momen sangat penting untuk diperingati. Di Indonesia, masyarakat Muslim kerap menggelar kegiatan memperingati malam penuh rahmat ini.

Terdapat pemahaman di kalangan umat Islam mengenai malam Nisfu Sya’ban. Pemahaman tersebut menyatakan saat malam pertengahan bulan Sya’ban ditetapkan takdir manusia.

Para ulama menyatakan saat Nisfu Sya’ban, segala takdir manusia akan dicatat di Lauh Mahfuz. Takdir ini tidak dapat diubah karena sudah ditetapkan Allah  SWT.

Oleh sebab itu, banyak ulama menganjurkan umat Islam memperbanyak berdoa. Ini agar Allah tidak memberikan takdir buruk kepadanya.

Namun, apakah pendapat ini benar adanya?

Ada beberapa dalil yang dijadikan dasar mengenai hal ini. Beberapa di antaranya disebutkan Syekh Muhammad Alwi Al Maliki dalam kitab Ma Dza fi Syaban.

Dalil yang dikemukakan Syekh Muhammad diakui sebagian ada yang dhaif. Namun demikian, hadis tersebut dapat dipakai sebatas untuk memicu semangat umat Islam agar tekun beribadah.

Dalil landasannya

Pemahaman yang menyatakan Nisfu Sya’ban adalah saat ditetapkannya takdir manusia berangkat dari pandangan atas tafsir dari ayat 3-4 Surah Ad Dukhan.

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami adalah para pemberi peringatan. Di dalamnya dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”

Beberapa ahli tafsir, salah satunya Al Qurtubi, memaknai malam yang diberkahi dalam ayat di atas adalah Nisfu Sya’ban. Pandangan ini diperkuat oleh sejumlah hadis lain.

Namun demikian, pemahaman di atas justru menuai polemik. Jumhur ulama malah berpandangan makna 'malam yang diberkahi' adalah Lailatul Qadar.

Perbedaan tafsir

Terkait polemik ini, Syekh Muhammad memberi penjelasan yang terang dalam kitabnya Mafahim Yajibu an Tushahhah. Penafsiran 'malam yang berkah' menjadi Lailatul Qadar berdasarkan metode tarjih, yaitu mengunggulkan satu riwayat dibandingkan lainnya.

Sedangkan penafsiran 'malam yang berkah' menjadi Nisfu Sya’ban didasarkan pada metode jam'ur riwayat. Para ulama mengumpulkan banyak riwayat dan memberikan titik pemahaman.

Sehingga, penyebutan Nisfu Sya’ban sebagai malam ditetapkannya takdir manusia adalah benar berdasarkan metode jam'ur riwayat. Untuk memperkuat pendapatnya, Syekh Muhammad mengutip riwayat Abu Dluha dari Ibnu Abbas RA.

“Sesungguhnya Allah menetapkan putusan dan takdir pada malam Nisfu Sy’ban dan menyerahkannya pada para pengampunya pada malam Lailatul Qadar.”

Penulis: Ahmad Baiquni.[]Sumber: dream.co.id / nu.or.id