Di usia senjanya, Nur Asiah (64) warga Gampong Simpang Peuet, Kecamatan Kuala, Nagan Raya harus memikul beban tanggung jawab menjadi kepala keluarga dalam menafkahi dua orang anak dan seorang cucu.
Bukanlah hal mudah bagi Nur Asiah dalam menghidupi kedua anak dan seorang cucunya. Bermodalkan kemampuan fisik seadanya Nur Asiah hanya bisa bekerja sebagai petani dan pengumpul buah pinang untuk mencari makan sehari-hari keluarganya.
Erliana (30) merupakan anak perempuan Nur Asiah dari 4 bersaudara. Semenjak 3 tahun silam Erliana menderita kelumpuhan setelah melahirkan anak keduanya. Selain itu, kelumpuhan yang dideritanya juga menyebabkan Erliana tidak bisa bicara (bisu).
Bagaikan “Jatuh tertimpa tangga” bukannya mendapatkan dukungan dari sang suami ketika sedang sakit malah Erliana ditinggal pergi.
Penderitaan makin dirasakan keluarga Nur Asiah setelah tiga bulan yang lalu putra sulungnya Abdu Rani (25) mengalami pembengkakan pada kaki hingga menyebabkan iya hanya dapat berbaring di kamar.
Lahir dengan keterbatasan fisik juga membuat Abdu hanya bisa membantu sang ibunda di sawah. Kaki dan tangan kanan Abdu hanya ditumbuhi dua anak jari.
Hanya dua anak laki-lakinya yang membantu perekonomian keluarga Nur Asiah.
“Yang dua lagi mereka sudah berumah tangga, jadi hanya membantu semampu mereka,” kata Nur Asiah di kediamannya kepada awak media, Rabu 23 Maret 2016.
Kini, keinginan Nur Asiah hanya kesembuhan putrinya yang lumpuh 3,5 tahun lalu. Berbagai upaya telah dilakukan, tapi apalah daya si tua renta ini.
“Setiap saat saya memohon kepada sang pencipta untuk memberikan jalan kesembuhan putri saya,” harapnya.[](tyb)
Laporan: Riski Bintang

