BANDA ACEH – Anggota Bidang Putroe Phang Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Aceh, Dra. Hj. Nur Asmah, M.Pd., mengatakan pemerintah harus memfasilitasi generasi muda supaya mau membuat songket Aceh untuk mewariskan keahlian para tokoh seperti Nyak Mu. Hal ini penting untuk membangkitkan kembali produksi songket Aceh.
“Jangan sampai penerus itu hilang. Maka pemerintah harus mendukung dengan cara memberi permodalan, peralatan dan bahan baku serta membantu pemasaran,” kata Nur Asmah kepada portalsatu usai pertemuan lanjutan membahas usulan RKBA agar lahirnya Pergub Pakaian Adat Aceh, di Ruang Duek Meusapat MAA, di Banda Aceh, 4 Oktober 2018.
Nur Asmah menyebutkan, Pemerintah Aceh dapat mendorong Dinas Perindustrian, Dinas Koperasi dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk memfasilitasi generasi muda membuat songket Aceh.
“Sebenarnya selama ini Dekranas Aceh cukup gencar melatih dan menggerakkan tenun-tenun itu, ada pembinaan tiap tahun oleh kabupaten/kota. Itu tersebar di Aceh Jaya, Banda Aceh, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Barat. Namun pemerintah harus lebih sungguh-sungguh memerhatikan untuk mengembalikan kebanggaan-kebanggaan masa lalu dalam kehidupan masa kini, khususnya tenun termasuk songket,” kata Nur Asmah menanggapi soal minimnya produksi songket Aceh.
Wakil Ketua Bidang Pengembangan Usaha Dekranas Aceh ini mengatakan, membantu bukan sebatas memotivasi, tetapi secara menyeluruh. Dengan kerja sama antardinas terkait seperti Dinas Perindustrian, Dinas Koperasi dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, ia optimis program itu akan berjalan maksimal. “Setelah dibantu kemudian terus dimonitoring keberlangsungan pruduksinya,” ujar Nur Asmah.
Sementara itu , Aceh Tour Guide, Fadhlan Amini, yang sering berkomunikasi dengan turis-turis Melayu mengatakan bahwa dalam pandangan mereka songket Aceh itu memberikan sebuah informasi melalui karya seni. “Peletakan benang, pembentukan motif, semua itu bercerita laksana sebuah manuskrib, laksana inskripsi pada batu nisan. Dan yang terpenting songket adalah bentuk sebuah identitas. Mengetahui siapa orang Aceh maka identitas ini diperlukan,” katanya.
Menanggapi minimnya produksi songket, Fadhlan mengatakan, Pemerintah Aceh harus mensosialisasikan kembali sehingga keinginan masyarakat untuk belajar cara membuat songket akan bertambah hingga produksi pun meningkat.
“Untuk membudayakan kembali pemakaian songket, Pemerintah Aceh harus menggunakannya di event atau acara besar. Songket harus lebih sering ditampilkan, bukan saja untuk keindahan tetapi juga filosofi songket harus ditampilkan,” kata Fadhlan.
Menurut Fadhlan, pengrajin songket harus terus dibina dan dilatih. Dari sisi stakeholder pariwisata lainnya terutama yang berdominasi di Banda Aceh mereka juga sadar bahwa songket memiliki potensi besar untuk dipasarkan. “Dengan sebab itu, melalui sosialisasi dan pemberitaan yang sering terhadap songket akan meningkatkan minat masyarakat untuk belajar membuat songket,” ujarnya.
Dia menambahkan, kalangan international yang memahami tentang songket akan tertarik sehingga permintaan meningkat, sementara persediaan songket masih terbatas, yang hanya bisa ditemui di sentral Siem dan kawasan di atas Kajhu.
“Songket yang kita miliki berbeda dengan yang ada di semenanjung Malaysia, atau di beberapa kawasan lain di Sumatera di pesisir timur, karena songket itu bercerita,” kata Fadhlan.[]




