BerandaNewsOrang Gila di Negeri Bahagia

Orang Gila di Negeri Bahagia

Populer

BANDA ACEH – Survei Indeks Kebahagiaan menunjukkan bahwa warga Aceh lebih berbahagia dibanding rata-rata penduduk Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2017). Aceh menduduki posisi ke-13 dengan skor indeks kebahagiaan 71,96, lebih tinggi dari skor rata-rata nasional 70,69. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan tingkat gangguan mental emosional dan depresi pada warga Aceh juga lebih baik dari rerata nasional (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2018).

Akan tetapi, Aceh menduduki peringkat tertinggi keempat se-Indonesia dalam gangguan jiwa berat (skizofrenia/psikosis). Aceh menduduki ranking tertinggi kedua dalam Riskesdas 2007 dan 2013 sehingga ranking kita membaik di 2018. 

Demikian paragraf pembuka artikel Ibnu Munzir, M.A., berjudul “Kesehatan Jiwa Aceh 2018: Lebih Baik dari Rerata Nasional, tapi Tidak untuk Gangguan Jiwa Berat”, bagian dari “Aceh 2018: Makin Gelap dan Sempit?” Catatan Akhir Tahun 2018 “Poros Darussalam”. 

Peneliti pada ICAIOS itu menyorot tentang tingginya penderita gangguan mental akut di kalangan warga Aceh. Riskesdas 2018 menunjukkan 0,9% atau sekitar satu dari 100 keluarga di Aceh memiliki anggota keluarga dengan gangguan skizofrenia/psikosis. “Ini berarti, jika ada 100 keluarga di gampong kita, kemungkinan ada penderita skizofrenia/psikosis di keluarga saudara atau tetangga kita,” tulis Sarjana Psikologi lulusan UI ini.

Skizofrenia/psikosis adalah gangguan jiwa yang membuat seseorang mengalami kesulitan untuk membedakan hal nyata dan tidak. “Gejalanya termasuk kepercayaan yang salah (delusi) seperti menganggap bahwa dirinya adalah presiden atau merasa bahwa orang lain ingin mencelakainya, padahal kenyataannya tidak,” kata master di bidang Community Psychology and Social Change dari Pennsylvania State University ini.

“Gejala lainnya adalah melihat atau mendengar sesuatu yang tidak dilihat atau didengar oleh orang lain (halusinasi) atau berperilaku dan berbicara yang tidak sesuai dengan konteks dimana seseorang berada”. 

Ibnu menjelaskan, skizofrenia/psikosis disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan. Di antara faktor lingkungan yang berkontribusi adalah stres/kekurangan nutrisi yang  dialami ibu saat hamil, mengalami kekerasan akibat konflik serta penyalahgunaan ganja dan narkotika.

“Penanganan gangguan jiwa adalah kebutuhan mendesak di Aceh dan ada tiga upaya penting yang perlu ditingkatkan: pencegahan, deteksi dan penanganan dini serta penanganan berkelanjutan,” jelasnya. 

Menurut Ibnu, pencegahan dilaksanakan dengan mengurangi faktor risiko seperti mencegah kekerasan terjadi lagi di Aceh dan mendampingi ibu hamil agar tidak mengalami stres berlebihan atau malnutrisi. 

Penyalahgunaan ganja dan narkotika yang merebak hingga pelosok gampong di Aceh perlu ditangani dengan serius oleh pemerintah dan masyarakat. “Jika tidak ditangani, penyalahgunaan narkoba dapat menjadi pendorong “tsunami gangguan jiwa” di Aceh” ungkapnya.

Pencegahan juga dapat dilakukan dengan melakukan kampanye mengenai upaya masyarakat dalam mengelola tekanan psikologis yang dialami dan saling  mendukung satu sama lain. “Kita sering bersepakat bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati, tapi tetap saja upaya pencegahan tidak mendapatkan perhatian dan sumber daya memadai,” kata Ibnu.

Ibnu menceritakan, sat melantik Wali Kota Banda Aceh tahun lalu, Gubernur Irwandi menyampaikan visinya agar masyarakat Aceh hana jadeh pungo. Upaya pencegahan adalah langkah pertama dan utama untuk mewujudkan hal tersebut. Deteksi dan penanganan dini (segera) adalah salah satu praktik baik (best practice) dalam penanganan gangguan jiwa. Semakin cepat gangguan jiwa diketahui dan mendapatkan penanganan memadai maka kemungkinan perbaikan semakin tinggi. Tantangan yang sering dihadapi di masyarakat adalah terbatasnya pengetahuan dan penyangkalan masyarakat terkait gangguan jiwa.

“Masyarakat sering kali menganggap gangguan jiwa yang dialami oleh anggota keluarga mereka akibat teluh (penyaket donya) sehingga anggota keluarga dengan gangguan jiwa dibawa dulu ke “orang pintar.” Setelah dibawa ke berbagai orang pintar dan tak kunjung membaik, anggota keluarga dengan gangguan jiwa baru dibawa ke tenaga medis,” ujar Ibnu Mundzir yang pernah bekerja untuk Pusat Krisis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan American Red Cross di bidang dukungan psikososial pascabencana.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya