Karya: Taufik Sentana
Banyak menulis puisi dan esai.Bergiat di Rumah Peradaban.
Jalan tepian kota yang seperti dulu di antara batas kembara waktu dan kenangan perjalanan indatu, harapan harapan berlarian.
Aku sendiri menyeruput kopi khas, wangi dan keras, di antara suara suara pengunjung yang bertukar cerita dan kecewa.
Masjid gagah di sekitarnya bersaksi tentang mimpi kita tentang Aceh kemarin, hari ini dan esok.
Aku tersedak dengan berita hangat pagi ini, tentang pemyakit menjalar yang menular dan kian meresahkan. Seiring berita ratusan perceraian muda. Hatiku bergetar mengenang sekitar dan bunga masa depan.[]


