LHOKSEUMAWE – Wakil Menteri BUMN I, Pahala Nugraha Mansury, mendorong PT Pupuk Iskandar Muda (PT PIM) berperan besar terhadap ketahanan pangan dan energi dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Upaya dilakukan mulai dari pengembangan pabrik NPK hingga Green Industry Cluster (GIC) atau Klaster Industri Hijau.
Hal ini disampaikan Pahala saat kunjungan kerja ke PT PIM di Aceh Utara, Rabu, 10 Agustus 2022. Pahala mengatakan PT PIM yang merupakan anak perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero) tengah melakukan sejumlah upaya guna meningkatkan kapasitas produksinya. Antara lain melalui pembangunan pabrik NPK berkapasitas 500 ribu ton per tahun dan reaktivasi pabrik urea PIM-1.
“Kami berharap pabrik NPK ini bisa diselesaikan dan dikomersialisasikan pada November atau Desember 2022. Penambahan kapasitas produksi NPK ini merupakan langkah besar untuk pengembangan PT PIM ke depan. Alhamdulillah, tadi saya dilaporkan Direksi PT PP, perkembangannya cukup baik dan penyelesaiannya bisa dicapai sekitar November,” kata Pahala.
Pahala menyebut kebutuhan nasional pupuk NPK saat ini sekitar 8 juta ton. Sedangkan kapasitas produksi Pupuk Indonesia Grup 3,4 juta ton. Tambahan kapasitas produksi sebesar 500 ribu ton ini tentunya berkontribusi signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan pupuk NPK nasional. Pabrik NPK ini nantinya harus didukung pemenuhan feedstock atau bahan baku yang baik, terutama potas atau kalium berasal dari Rusia.
Selain melalui pembangunan pabrik NPK baru, Pahala juga mendukung upaya PT PIM melakukan reaktivasi pabrik PIM-1. Reaktivasi ini diharapkan juga dapat menambah kapasitas produksi urea PT PIM. Tantangan dalam melakukan reaktivasi ini masih adanya kendala pasokan gas.
“Saat ini kita sedang menunggu bagaimana dapat memperoleh pasokan gas untuk reaktivasi PIM-1. Di mana kita ketahui kebutuhannya sekitar 55 MMSCFD. Jadi, ini sedang kita upayakan dengan berkoordinasi dengan holding Pupuk Indonesia, juga Pertamina dan PGN,” ujar Pahala.
Pahala menambahkan dalam rangka ketahanan energi, Kementerian BUMN juga mempunyai inisiatif pengembangan Klaster Industri Hijau. Yakni kawasan industri yang menggunakan energi berbasis green. Salah satu komoditas yang berpotensi untuk dikembangkan di PT PIM adalah Blue dan Green Ammonia.
“Kami berharap kawasan industri ini bisa segera direalisasikan. Dengan adanya klaster industri hijau menjadikan PT PIM bukan hanya perusahaan pupuk, tapi juga perusahaan yang bisa mendukung ketahanan pangan dan ketahanan energi,” ujar Pahala.
Direktur Portofolio dan Pengembangan Bisnis Pupuk Indonesia, Jamsaton Nababan, mengatakan pengembangan kawasan ini sesuai dengan strategy house green industry cluster Kementerian BUMN yang menargetkan reduksi karbon hingga 29 persen di tahun 2030, dan net-zero emission pada tahun 2060. Strategi yang dilakukan antara lain pemanfaat energi baru dan terbarukan, implementasi teknologi carbon capture, peningkatan efisiensi, serta pengembangan bisnis dan industri ramah lingkungan.
Terkait pasokan gas untuk reaktivasi PIM-1, lanjut Jamsaton, pihaknya telah mengajukan permohonan dukungan kepada Kementerian ESDM untuk pengadaan LNG, baik melalui pasokan dalam negeri maupun impor. Kementerian ESDM juga telah merespons dan memberikan dukungannya untuk pengadaan LNG tersebut.
Direktur Utama PT PIM, Budi Santoso Syarif, menyampaikan pihaknya mengapresiasi atas kunjungan Wamen BUMN I.
“Kami siap mewujudkan Klaster Industri Hijau di area PT PIM. Kami juga didukung oleh lokasi yang strategis, serta fasilitas dan utilitas pendukung yang memadai, seperti pelabuhan, jaringan interkoneksi listrik dan air, serta jaringan pipa gas,” ujar Budi.[](ril)






