LHOKSEUMAWE – Pakar Ekonomi Universitas Malikussaleh Wahyuddin Albra mengatakan, membuka lapangan pekerjaan itu tidak harus selalu menjadi tugas pemerintah.
Itu harus kita perbaiki mulai dari tingkat universitas sehingga nantinya mencetak sarjana yang siap memberi kerja, kata Wahyuddin ketika ditemui portalsatu.com, Selasa, 5 Januari 2016 sore.
Wahyu menjelaskan, misalnya ke depan dapat mencetak sarjana yang enterpreneur. Jadi, maksudnya harus mencari solusi lain agar lulusan perguruan tinggi tidak hanya mengharapkan kerja dari pemerintah.
Tak hanya itu, ia menilai Sumber Daya Alam (SDA) Aceh tidak berkembang dan bermanfaat bagi masyarakat. Wahyuddin mengatakan banyak hal yang harus difikirkan kalau ingin berinvestasi. Bukan hanya SDA saja, tetapi juga ada SDM yang berlebih.
Menurut saya aneh, paradoks dengan faktor ekonomi. Seharusnya kita tidak ada pengangguran, ada SDA, SDM dan lainnya, namun ini keseluruhan itu menjadi menganggur dan tidak bisa memanfaatkannya. Nah ada apa? Ini yang perlu dipikirkan oleh kita bersama dan ini pastinya sudah menjadi pembahasan umum di kalangan masyarakat, kata Wahyuddin.
Ia mempertanyakan, bagaimana orang mau berinvestasi di Aceh, kalau daerah ini masih belum siap menerima investor. Jika pun siap, katanya, maka sama-sama harus mendukungnya kalau ingin investasinya aman di daerah Aceh.
Solusinya, selama ini perekonomian Aceh itu hanya ditopang oleh pengeluaran pemerintah, kalau dalam skala makro itu harusnya ada investasi. Jadi harusnya sekarang diperlukan orang-orang dari pemerintahan yang mendorong Aceh ke arah lebih baik lagi, katanya.
Wahyuddin mengatakan orang akan tidak bekerja kalau APBA telat disahkan. Pasalnya, salah satu sistemnya, yakni investasi, tidak jalan. Ada juga ekspor-impor, namun hal tersebut sejauh mana perkembangannya harus dilihat kembali.
Sejauh mana kita melakukan kebijakan ekspor-impor dan ini jelas tidak berjalan. Maka dengan demikian, terlihat dua sektor dalam skala makro tidak berfungsi atau tidak berjalan dengan baik, ujar Wahyuddin.[](tyb)



