Paloh Dayah (Meunasah Dayah) adalah kampung seluas sekira 500 hektar perbukitan dan sedikit sawah, di Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe. Ada sekira 380 kepala keluarga di sini, dan penduduknya lebih seribu jiwa. Ada dua dusun, Dusun A dan Dusun B. Tidak ada dataran di kampung ini. Apabila penduduk ingin mendirikan rumahnya, maka mereka harus menimbun sawah ataupun meratakan tebing bukit seperlunya. 

Mata pencaharian utama penduduk di sini adalah bertani. Tidak ada nelayan, walaupun jarak Paloh Dayah dengan pantai hanya sekira 2 kilometer. Pantainya Rancong dan Blang Lancang telah menjadi perusahaan gas sejak 1970-an.

Beberapa orang penduduknya ada yang pegawai negeri sipil, baik staf pemerintah maupun guru. Beberapa orang juga ada yang menjadi pegawai swasta, tukang, kontraktor, seniman, dan sebagainya.

Paloh Dayah ini dulunya adalah tempat Tgk Chik di Paloh membangun sebuah Dayah. Balai untuk dayah itu kemudian di jadikan meunasah oleh penduduk, setelah Tgk Chik di Paloh meninggal dunia. Sebuah kolam digali di samping bangunan meunasah berbentuk rumoh Aceh tersebut. Kolam masih ada dan terawat, sisa balainya pun masih digunakan untuk tempat pengajian murid Dayah Tgk Chik di Paloh yang baru didirikan kembali.

Setelah era perang Belanda, di gampong ini hanya beberapa orang yang dikirim ke dayah besar. Lulusan tersebut menjadi tokoh masyarakat sekarang. Setelahnya, penduduk Paloh Dayah beramai ramai mengirimkan anaknya ke dayah dayah di luar gampong.

Belasan orang kini telah menjadi guru untuk dayah dan balai pengajian. Sekira 37 orang lagi masih meudagang (nyantri) di Dayah Besar di luar Paloh Dayah. Di Dayah Tgk Chik di Paloh yang baru didirikan kembali, ada 30-an murid yang bermalam dan mengaji penuh waktu. Mereka adalah perwakilan dari sekira 7 balai pengajian di sini. Mereka berusia sekolah dasar dan menengah. 

Sebuah masjid juga telah didirikan kembali di gampong ini. Dalam beberapa tahun pembangunannya maju, banyak dermawan membantu.

Dulu, di gampong ini ada grup pemain rapa-i. Namun, pemuka rapa-i di sini kemudian menghentikan kegiatannya, sehingga hal tersebut jarang dilakukan. Di sini juga pernah diadakan acara meurukon. Namun, kemudian berhenti. Bermain volly juga pernah ada, lalu lenyap. Orang orang juga memburu babi hutan pada setiap hari Sabtu.

Sementara, kegiatan pemuda yang tersisa di sini adalah sepakbola. Sepakbola dini, dulu, ada dua klub. Sekarang, generasi telah berganti, mereka memilih bergabung menjadi satu klub atas nama gampong. 

Sebuah lapangan kecil telah dibeli di sini. Sebelumnya, pemuda bermain sepakbola di lampoh u atau persawahan. Walaupun bukan klub yang terkenal, klub sepakbola Paloh Dayah pernah menjadi juara dalam pertandingan se kecamatan. 

Ada kegiatan sepakbola yang tersisa di sini, selain latihan rutin setiap sore hari biasa, yaitu pertandingan sepakbola antar klub sementara dalam kampung. 

Ied Cup, begitulah namanya disebut. Pengurus sepakbola membentuk panitia setelah hari raya Idul Fitri, untuk membentuk beberapa klub sementara secara acak, kemudian melangsungkan pertandingan selama sepekan. Tahun ini, Ied Cup baru saja selesai, pada Ahad, 16 Juni 2019.

Selain itu, sebagian orang tengah menyiapkan ladang ladang di puncak bukit, sekitar Cot Suwe, untuk agrowisata. Hal itu akan cepat terjadi jika masyarakat dan pemerintah gampong mendukungnya.

Penduduk Paloh Dayah, terutama perempuan, memiliki usaha rumahan, membuat kerupuk ubi. Ada sekira seratus orang yang membuat kerupuk. Mereka mengambil ubi dari ladang sendiri ataupun membelinya, pada pemilik di sana juga.

Jika dilihat dari gairah pemudanya sekarang, maka ke depan, Paloh Dayah akan terlihat seperti sebuah dayah yang besar, dengan kegiatan sepakbola yang rutin dan menjadi gampong wisata, agrowisata dan wisata religi, serta usaha masyarakat seperti kerupuk ubi semakin banyak dan terkenal.[]