Artis Pamela Anderson meminta Perdana Menteri Australia, Scott Morrison untuk menelpon Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk membebaskan pendiri WikiLeaks, Julian Assange. Dia juga memperingatkan ekstradisi Assange akan jadi preseden buruk bagi wartawan.
Assange, warga berkebangsaan Australia, terancam hukuman 175 tahun penjara di bawah UU Spionase jika dikirim ke Amerika Serikat. Saat ini dia ditahan di Inggris dan dokter serta pendukungnya memperingatkan kondisi kesehatannya yang memburuk. Kesehatan Assange memburuk karena kondisi penjara, ruangan isolasi, dan bertahun-tahun terkurung di Kedutaan Besar Ekuador, di mana dia mendapat suaka.
Anderson mengkategorikan apa yang dialami Assange sebagai penyiksaan psikologi. Dalam permohonannya ke PM Morrison, dia meminta agar Morrison melindungi pahlawan Australia tersebut dari kemungkinan ekstradisi yang mengerikan ke AS.
Bintang Hollywood itu menunjuk pendahulu Morrison yang pernah menolong warga Australia lainnya – sutradara film James Ricketson – yang pernah ditahan di Kamboja karena kasus spionase. Anderson mengatakan Morrison seharusnya melakukan upaya yang sama, menelpon telepon dan meminta Trump melindungi hak warga negara demokratis di dunia.
“Dia tidak ingin 'perlakuan istimewa', dia hanya ingin diperlakukan seperti warga dan wartawan Australia yang lain, dia tidak melakukan kejahatan apapun yang menjadi preseden di bidang hukum,” jelasnya, dilansir dari laman Russia Today, Rabu (27/11).
Pemain Baywatch itu bukan satu-satunya yang angkat bicara terkait Assange. Pada Minggu, lebih dari 60 ahli kesehatan dari seluruh dunia menyuarakan perhatiannya terkait kondisi kesehatan mental dan fisik Assange dalam sebuah surat terbuka kepada Menteri Dalam Negeri Inggris, Priti Patel.
Para ahli mengacu pada laporan Nils Melzer, Pelapor Khusus PBB untuk Penyiksaan dan Perlakuan Kejam, Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat. Dalam laporan itu diminta agar Inggris segera mengubah perlakuannya atas Assange dan jangan berlaku sewenang-wenang.
“Setiap warga Australia perlu menyadari jika Julian Assange diekstradisi ke AS, maka setiap jurnalis dan pengungkap fakta lain di internet rentan terhadap eksekusi atau hukuman penjara 175 tahun hanya karena mempublikasikan fakta-fakta yang dikirimkan kepadanya oleh pelapor,” kata Anderson menyebut Assange adalah orang yang mengungkapkan kepada dunia korban sipil perang Amerika di Timur Tengah.
Diduga Berperilaku Buruk
Julian Assange ditangkap polisi Inggris di London pada awal April 2019 lalu. Dia dibawa dari Kedutaan Ekuador tempat dia mendapat suaka politik selama ini.
Sejak tahun 2012, Assange, yang juga juru bicara WikiLeaks, hidup di bawah perlindungan diplomatik Ekuador di London. Akan tetapi pada April lalu, pihak kedutaan menarik suaka Assange dan memanggil petugas polisi untuk menangkapnya.
Presiden Ekuador, Lenin Moreno, menyampaikan bahwa izin penangkapan Assange diberikan kepada kepolisian di London atas alasan perangai buruk Assange selama berada di kedutaan.
Julian Assange menerima suaka diplomatik dari Ekuador setelah melanggar jaminan di Inggris selama penyelidikan dugaan kekerasan seksual di Swedia. Swedia telah mencabut surat perintah penangkapan untuk bos WikiLeaks itu, meskipun kasusnya tidak ditutup.
Julian Assange, namanya jadi terkenal pada 2010 ketika situsnya, WikiLeaks, menayangkan cache kebocoran dari militer AS yang disediakan oleh mantan analis intelijen Angkatan Darat AS, Chelsea Manning, termasuk video pasukan AS yang diduga membunuh warga sipil.
Jaksa AS menuduh Assange telah membantu Manning memecahkan kata sandi untuk mengakses jaringan pemerintah di komputer Departemen Pertahanan. Manning kemudian mengunduh catatan rahasia dan mengirimnya ke Wikileaks.
“Memecahkan kata sandi bisa memungkinkan Manning untuk meretas komputer-komputer di bawah nama pengguna yang bukan miliknya,” ujar kantor pengacara AS.
Dalam sebuah klip yang diunggah di Twitter pada April lalu, Presiden Ekuador Lenin Moreno mengkritik perilaku Assange yang “tidak sopan dan agresif” selama berada di kedutaan.
Ia menambahkan, sikap jelek Assange telah mengarahkan situasi ke titik di mana suaka terhadapnya tidak dapat dipertahankan lagi. Moreno menjabat sebagai presiden Ekuador pada Mei 2017, menggantikan Rafael Correa yang telah memperpanjang suaka terhadap Assange.
“Dia (Assange) telah melanggar norma terkait ikut campurnya terhadap urusan internal negara-negara lain,” papar Moreno dalam rekaman itu.
Ekuador khawatir Assange bisa membahayakan posisi negara ini di panggung internasional, karena Assange terus membeberkan rahasia pada WikiLeaks melalui fasilitas di kedutaan. “Kesabaran Ekuador telah mencapai batasnya,” tegas Moreno.[]Sumber:merdeka







