Oleh Taufik sentana

Ikatan Dai Indonesia Kab. Aceh Barat

 

Sebagai kitab suci yang terpelihara validitasnya, Alquran telah melampaui semua pemikiran filsafat tentang manusia dan kehidupan. Katakanlah, semisal filsafat materialistik dan eksistensial serta mistisme. Sebab kesemuanya memandang manusia tidak secara utuh, sedang manusia, bahkan menurut sains modern adalah makhluk yang serba kompleks, maka Alquran pun memandang manusia dengan pandangan yang adil dan universal.

 

Dari tampilannya manusia terdiri dari ruh dan jasad, keduanya saling berinteraksi dan memerlukan kebutuhan yang berbeda. Dan manusia tidaklah semata dalam bayang halusinasi seksuil, penuh nafsu dan egosentris, sehingga ia bebas berfikir dan berbuat sebagaimana hewan menjalani hidupnya. Namun manusia sebagai makhluk tertinggi dan mulia, baik dari segi bentuk penciptaan, daya kreasi dan tanggung jawab yang diemban. Kelalaian manusia akan kemuliaannya akan menyebabkannya menjadi makhluk terendah, bahkan lebih sesat dari binatang (moga Allah Membimbing kita).

 

Alquran mengakui personalitas manusia, sebagaimana Alquran memberikan tanggung jawab dalam bermasyarakat. Bahkan untuk menjalankan fungsi sosialnya manusia diberi “gelar” Khalifah fil Ardh oleh Allah.

 

Jadi Alquran, secara eksistensial mengakui wujud fisik dan rohani pada manusia. Manusia terdiri dari ruh dan jasad. Terdiri dari akal dan nafsu.  Manusia juga mendapat mandat untuk menjalankan misi perbaikan di buka bumi selain menyembah Allah secara rituil (makhdhah). Untuk misi ini Allah telah memberikan kemampuan berfikir dan mengelola alam dalam diri manusia, sehingga manusia terus mengalamai kemajuan sesuai kebutuhannya.

 

Namun kemajuan yang dicapai manusia hendaklah sejalan dengan cita kemuliaan yang telah Allah berikan kepada manusia. Sebab Allah telah melebihkan manusia dari makhluk yang lain, bahkan dilebihkan dari malaikat-Nya. Oleh karena itu manusia sangat bertanggung jawab terhadap realitas sosial yang dihadapi masyarakatanya, dan seorang manusia tidak bisa berlepas diri dari dampak lingkungan yang ada di sekitarnya. Sehingga manusia tidak semata berpayung pada takdir tanpa berupaya maksimal.

 

Dalam mewujudkan kemuliaan tersebut manusia mesti bisa meyelaraskan kepentingan personalnya dalam kemajemukan, bertanggung jawab atas perkara komunal dengan kapasitas masing masing. Banyak sekali amalan-amalan dalam Islam yang mengaitkan betapa pentingnya ibadah personal tanpa mengesampingkan kepentingan sosial. Maka puasa dikaitkan dengan zakat fitrah, shalat dengan zakat dan infaq serta pengabdian kepada Allah mesti sejalan dengan bakti kepada ayah dan ibu.

 

Dengan memahami pandangan Alquran tentang manusia, semakin yakinlah kita bahwa Alquran merupakan wahyu Allah yang di dalamnya Allah telah merangkum semua keperluan manusia secara lahir maupun batin, bahkan untuk kepentingannya sesudah di dunia.

 

(Wallahu a'lam).[]