Oleh: Murthalamuddin*

Melihat perilaku kampanye partai politik di Aceh saat ini sangat berbeda dengan pemilu sebelumnya. Dua pemilu sebelumnya di Aceh terlihat nyata kampanye parlok dengan parnas. Terutama Partai Aceh (PA).

Tema utama mereka jelas MoU Helsinki dan UUPA. Hal yang sama juga terlihat dari parlok lain, walau tak sekentara PA. Bahkan kesan yang muncul, parnas pun ikut-ikutan parlok. Kini seperti telah berbalik. Parlok kehilangan kekhasannya, dan cenderung tema-tema kampanye terkesan meniru parnas.

Dalam bisnis, faktor pembeda adalah keunggulan. Ketika berjualan di pasar, bila komoditas Anda sama dengan yang lain, maka butuh pembeda. Boleh jadi dari segi rasa maupun pelayanan. Konon lagi Anda pedagang baru di situ. Sehingga ada alasan lain bagi konsumen untuk membeli barang Anda.

Nah, parlok yang sedang bertarung di Pemilu 2019 tampaknya kehilangan pembeda. Ini terlihat dari alat peraga kampanye. Juga di sosial media para calon dan tim suksesnya. Isu MoU dan UUPA mulai kurang diberi ruang.

Padahal, Aceh satu-satunya daerah yang punya parlok. Mengapa? Sebab hasil dari kesepkatan damai GAM dengan RI. Kesepakatan itu tertuang dalam MoU Helsinki dan UUPA. Sehingga lahirnya parlok termaktub dalam MoU dan UUPA.

“Ayah dan ibu” dari parlok adalah MoU dan UUPA. Maka bila kini mereka tidak lagi mau mengurus ayah dan ibunya itu, barangkali mereka pantas disebut “anak durhaka”. Mereka lupa siapa yang melahirkan mereka. Tahunya mengambil manfaat. Sadarkah mereka tanpa MoU dan UUPA mereka takkan pernah lahir?

Bila alasannya bahwa selama ini isu itu didominasi PA, dan parlok ini mengklaim MoU dan UUPA milik mereka, maka kita kembalikan ke konsep keluarga. Sudah biasa sesama anak-anak saling klaim paling disayang orangtuanya. Atau klaim paling sayang sama orang tuanya. Bila begitu, apakah kalau si kakak klaim, terus si adik bukan lagi anak dari si orangtua? Biar saja mereka klaim. Toh tidak ada aturan melarang partai lain turut menjual MoU dan UUPA. Bukankah masih banyak orang Aceh menginginkan MoU dan UUPA agar implementasinya terus diperjuangkan?

Keminderan parlok mungkin disebabkan gagalnya PA memenuhi janji-janji politiknya. Akan tetapi, apakah itu kegagalan atau belum berhasil? Apakah kalau gagal tidak mungkin terus diperjuangkan? 

Bila PA dan parlok lain kini beralih ke isu yang juga dimainkan parnas, pertanyaannya apakah parnas telah berhasil memenuhi janji-janjinya dari pemilu ke pemilu? Sehingga parlok ikut-ikutan mereka. Kalaupun iya parnas sukses, apakah dengan mengekor mereka parlok akan dipilih? Mengapa harus dipilih sementara isunya sama dengan parnas?

Sebenarnya perbedaaan mendasar adalah apa faktor pembeda parlok dengan parnas. Kalau cuma beda secara entitas dan identitas, kalau kepiawaian jelas lebih baik SDM-nya. Maka “bodohlah” parlok yang kini mengekor parnas. Cuma jual tampang atau primordial etnik. Atau cuma membanggakan sejarah.

Saran penulis, parlok kembalilah ke pangkuan orang tuamu. Rawat mereka sebaik-baiknya. Tanpa restu mereka, kalian mungkin saja akan hancur. 

Coba tanya, apa unggulan parlok selain nama untuk melawan hegemonik parnas? Tanpa kekhasan isu dan tawaran ke pemilih, maka senjakala kematian parlok barangkali akan segera tiba. Pemilih pasti masih melirik partai yang berani berteguh dengan isu kekhususan Aceh.

Oleh karena itu, parlok harus segera sadar. Kegagalan PA tidak harus menjadi Anda minder. Toh parnas juga belum pernah sukses. Mengherankan bila harus durhaka hanya untuk mengikuti hal terlihat rame. Padahal, inklusif dan eksklusif sangat mungkin diminati pemilih.[]

*Penulis adalah jurnalis portalsatu.com/. Opini ini pandangan pribadi penulis.