DILIHAT dari depan, tidak ada yang aneh. Hampir semua toko sepanjang Jalan Pasar Sayur di Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe, berdenyut dengan aktivitas jual beli. Mulai toko kelontong sampai bahan dapur. Akan tetapi hanya di lantai dasar toko-toko tersebut.

Suasana sebaliknya terlihat di lantai dua puluhan toko itu dari dua deretan yang saling berhadapan. Puluhan pintu toko barisan kanan dan kiri (arah utara dan selatan) di lantai dua tersebut menghadap ke lapangan yang luas. Lapangan berlantai keramik itu berada di bagian tengah. Untuk masuk ke lapangan tersebut ada pintu cukup lebar dilengkapi anak tangga di sebelah barat dan timur, juga di bagian tengah sebelah selatan.

Di lapangan itu hanya tampak beberapa bocah sedang bermain. Sesekali ada pula warga yang sekadar melintas. “Tidak jelas mengapa tidak difungsikan, mungkin karena pedagang sayur tidak mau masuk ke dalam bangunan ini. Pedagang sayur lebih memilih di luar yang tempatnya terbuka,” ujar seorang warga di lokasi itu, 30 September 2016.

Bangunan besar bertuliskan “Pasar Kota Lhokseumawe” yang di bagian tengahnya terdapat lapangan menunjukkan hal itu dirancang untuk sebuah pasar khusus. Pasar sayur. Celakanya, bangunan yang dibikin dengan anggaran daerah miliaran rupiah beberapa tahun silam sampai saat ini menjadi “pasar mati”. Bangunan pasar yang dibangun pemerintah itupun terkesan mubazir.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Perindagkop) Lhokseumawe Halimuddin mengatakan, bangunan pasar itu dibangun tahun 2010. “Itu (dibangun) masa kepala dinas sebelumnya. Salah perencanaan, di tengahnya tidak ada lorong, sehingga pedagang tidak mau tempati (pasar itu),” ujar dia dihubungi portalsatu.com/, 1 Oktober 2016, malam.

Ditanya solusi dari pemerintah untuk memfungsikan bangunan pasar itu, Halimuddin mengatakan, “Sementara nyoe hana tatuoh solusi, karena golom teuhah jalan rap likot (sementara ini kita tidak tahu solusinya, karena belum terbuka jalan lewat belakang bangunan itu)”.

Kepala Dinas Pendapatan (Dispenda) Lhokseumawe Amiruddin mengaku belum mengetahui persis kondisi bangunan pasar tersebut. “Kita sedang melakukan pendataan kembali semua bangunan pasar. Saya akan cek dulu pada staf yang selama ini ditugaskan ke lapangan untuk pendataan,” kata dia.

Jika saat ini masih ada “pasar mati”, Amiruddin merasa optimis ke depan akan dapat “dihidupkan” melalui pendekatan terhadap para pedagang. Misalnya, kata dia, tahap awal bangunan milik pemerintah digratiskan dulu kepada pedagang. Setelah kegiatan usaha mereka berjalan lancar, baru disewakan atau dikutip retribusi. “Sebisa mungkin kita manfaatkan bangunan pasar yang sudah ada agar menghasilkan PAD (pendapatan asli daerah),” ujarnya.

Amiruddin mengakui tujuan pemerintah membangun pasar memang untuk kepentingan masyarakat dan kemajuan daerah. Menjadi tempat perputaran ekonomi masyarakat sekaligus berkontribusi terhadap PAD.

Ya, semua pasar mestinya dihidupkan, bukan malah dibiarkan mati dengan “hana tatuoh solusi”. Pemerintah berkewajiban memfasilitasi, mencari solusi.[](idg)

Baca juga:

Terbengkalai, Pasar Kota Lhokseumawe Jadi Sarang Maksiat