SUBULUSSALAM – Pejabat (Pj) Kepala Desa Cipare-pare, Ramli, S. Pd mengatakan kondisi lahan pertanian masyarakat di sana aman dari ancaman banjir pasca normalisasi sungai, menyebabkan debit air tidak lagi meluap ke area pertanian seperti sebelumnya.
"Alhamdulillah setelah normalisasi sungai, nama sungai itu ada yang mengatakan sungai tambar lehe, kalau petani bilang itu sungai persawahan Belegen. Jadi, setelah nòrmalisasi itu, area pertanian di sini, alhamdulillah tidak banjir lagi,"kata Ramli kepada portalsatu.com/, Selasa, 1 November 2022.
Ia menjelaskan lokasi lahan persawahan di sana mencapai 50 hektare meliputi tiga desa, Cipare-pare, Belegen dam Cipare-pare Timur. Lokasi pertanian itu sebelumnya kerap dilanda banjir jika musim hujan seperti yang terjadi sejak semiggu terakhir ini. Sehingga masyarakat yang menanam padi sering gagal panen.

“Dulu lokasi pertanian di Capare-pare bukan banjir lagi, tapi seperti lautan, jika musim hujan seperti sekarang ini,” kata Ramli.
Namun kata Ramli, berkat program normalisasi Sungai Belegen, lahan pertanian masyarakat di tiga desa tersebut aman dari banjir. Hal ini menurut Ramli, bisa dibuktikan pada saat tanam perdana jagung, Minggu, 30 Oktober kemarin, area persawahan yang sekarang digunakan untuk tanaman jagung terlihat kering sehingga tidak menggangu aktivitas masyarakat yang berkebun di sana.
Ramli berharap program ketahanan pangan tanaman jagung ini bisa berhasil sesuai target, petani mendapatkan produksi buah yang maksimal dengan lahan perkebunan yang kering aman dari banjir. Hal ini bekat dukungan Pemko Subulussalam yang telah melakukan normalisasi Sungai Belegen.
Terpisah Kepala Dinas PUPR Alhaddin mengatakan program normaliasi Sungai Penutungan (nama berdasarkan SK penamaan sungai) dilakukan untuk mengantisipasi banjir meluap ke lokasi persawahan warga seperti yang terjadi di tahun-tahum sebelumnya.
Normalisasi sungai sepanjang delapan kilometer dengan lebar 25 meter dan ketinggian tanggul sekitar dua meter lebih, dengan sumber dana PEN tahun 2022 sekitar Rp 12 miliar.
“Sebelumnya ukuran sungai itu kecil lebarnya ada yang 4 meter, 5 meter, kita buka lagi menjadi 25 meter sepanjang 8 kilometer, hasil galiannya kita jadikan tanggul. Setelah normalisasi ini lahan sawah warga di sana tidak banjir lagi,” kata Alhaddin.[]






