BANDA ACEH – Umat Nasrani seluruh dunia sedang bersuka cita merayakan Natal 2018. Mereka berduyun-duyun menuju gereja mengikuti Misa Natal.

Umat Kristiani di Serambi Mekkah pun berduyun-duyun menuju gereja melaksanakan Misa Natal, Senin (24/12). Mereka sedang bersuka cita merayakan Natal tahun 2018 di Gereja Katolik Hati Kudus, Banda Aceh.

Suara lonceng berbunyi dari gereja pertanda Misa Natal hendak dimulai. Ratusan jemaat langsung memadati gereja dan duduk rapi mengikuti Natal yang dipimpin Harold Harianja, OFM Cap. Semua jemaat khidmat larut dalam doa. Selesai beribadah, sesama jemaat saling berangkulan dan bahkan ada yang meneteskan air mata.

Gereja Katolik Hati Kudus, Banda Aceh, Harold Harianja, OFM Cap memuji toleransi di bumi Serambi Mekkah. Selama ia bertugas di Aceh tidak pernah menemukan ada gesekan antar umat beragama. Justru bisa hidup berdampingan dan antar agama bisa saling menghargai.

“Masyarakat (Aceh) sangat toleran terhadap agama lain, tidak dipersoalkan agama dari mana, terutama saya rasa toleransi ada di Aceh ini,” kata Harold Harianja, OFM Cap.

Harold Harianja, OFM Cap mengaku, saat bertugas di Aceh mendapatkan kesan khusus. Menyambut Natal di Aceh tanpa ada gesekan apapun. Malah dia merasakan Natal di Aceh berjalan damai tanpa ada gangguan apapun.

“Kami sebagai umat Katolik, sama sekali tidak pernah terganggu, terusik saat kami beribadah,” tukasnya.

Harold Harianja, OFM Cap dalam ceramahnya depan jamaat menyampaikan pesan perdamaian. Terutama menjelang perhelatan Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg), agar selalu menjaga perdamaian dan kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia.

“Jelang pilpres, sepertinya ada perasaan dihadapkan pada satu ketegangan. Tanggung jawab kita adalah menjaga perdamaian, umat Katolik jangan masuk dalam kelompok seperti ini (yang tidak jaga perdamaian). Tapi sungguh harus membawa damai, ini yang kami tekankan kepada umat kami, agar mencintai damai,” jelasnya.

Sebelumnya, lembaga Setara Institute yang didirikan oleh Rocky Gerung cs dalam website resminya merilis data, Banda Aceh menempati kota paling tidak toleran kedua setelah Tanjung Balai, Sumatera Utara.

Ibu Kota Jakarta juga termasuk dalam kategori 10 kota dengan skor toleransi terendah di Indonesia. Berikut sepuluh kota dengan peringkat paling tidak toleran versi Setara Institute:

1. Sabang (3,757)
2. Medan (3,710)
3. Makassar (3,637)
4. Bogor (3,533)
5. Depok (3,490)
6. Padang (3,450)
7. Cilegon (3,420)
8. Jakarta (2,880)
9. Banda Aceh (2,830)
10. Tanjung Balai (2,817)

Reporter: Afif.[]Sumber: merdeka.com