JAKARTA – Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam meminta pemerintah serius mengembangkan koperasi dan usaha kecil menengah atau UKM. Dengan mengembangkan koperasi dan UKM dinilai tidak saja mengejar pertumbuhan ekonomi, tapi juga bagaimana mampu menciptakan lapangan kerja serta mengangkat nasib rakyat yang masih berada di bawah garis kemiskinan.
Ketua PB HMI Komisi Koperasi dan Pengembangan UMKM, Firmansyah Arfan, mengatakan, amanah Nawacita bagaimana Negara hadir mendampingi rakyat, untuk berdaya dan mandiri. Menurut data yang ada justeru yang mendominasi jumlah angkatan tenaga kerja Indonesia banyak di daerah kantong kemiskinan.
Harapan kita mendorong pemerintah bisa serius di daerah kantong-kantong kemiskinan dengan program koperasi dan usaha kecil ini, ujar Firmansyah Arfan dalam siaran pers yang diterima portalsatu.com, Rabu, 3 Februari 2016.
Ia melanjutkan, MEA efektif berlaku sejak Januari 2016. Kawasan Asean otomatis menjadi pasar tunggal dan basis produksi yang terintegrasi dari 625 juta orang warga Asean. Indonesia menjadi pasar konsumen terbesar di Asean, 3,51 persen penduduk dunia.
Dengan kata lain, 255 juta penduduk Indonesia saat ini, adalah setengah dari seluruh konsumen atau warga Asean. Sedang 11,13 persen-nya adalah penduduk miskin, kita berharap jika mau punya daya saing tinggi ke depan pemerintah serius disini (kantong-kantong kemiskinan-red), katanya.
Indonesia, jangan seperti Meksiko setelah bergabung ke dalam NAFTA dan dekat dengan Amerika, justru jumlah kemiskinan serta pengangguran bertambah, dan gelombang imigran terus melonjak. Karena pasar bebas ini sebenarnya hanya untuk negara yang berteknologi, permodalan dan SDM yang sudah siap, katanya.
Ia juga mengatakan, ke depannya dengan semangat back to campus juga sudah memetakan peluang munculnya pengusaha-pengusaha muda dari kampus dan gerakan koperasi di kalangan mahasiswa sendiri mulai terlihat menggeliat. Tumbuhnya kesadaran ini menurutnya karena mahasiswa akan kembali ke desa-desa mereka sebagai agent of change dalam pemberdayaan masyarakat.
Mahasiswa kita di kampus-kampus semestinya, sebelum pulang ke daerah masing-masing, sudah mendapatkan pelatihan dan belajar ilmu koperasi sebagai modal. Nah, di sinilah program PBHMI akan kita dorong, kata alumnus Fakultas Ekonomi IAIN Palopo, Sulawesi Selatan ini.[](ihn)



