BANDA ACEH – Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Aceh menggelar diskusi daring via zoom meeting terkait pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Daroy, Banda Aceh, Senin, 11 Mei 2020.

Diskusi dengan tema “Menyoal Masalah PDAM” itu menghadirkan nara sumber antara lain Kepala Ombudsman RI Perwakilan Aceh Dr Taqwaddin Husin, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh Farid Nyak Umar, dan Direktur Utama PDAM Tirta Daroy T. Novrizal Aiyub. Diskusi daring itu dimoderatori oleh Ilyas Isti.

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Aceh Dr Taqwaddin Husin menjelaskan, diskusi tentang PDAM Tirta Daroy digelar karena banyak keluhan di media terkait kurangnya suplai air bersih kepada warga. Namun Ombudsman belum menerima keluhan tersebut secara langsung.

“Oleh karena itu, di sini kami membuka ruang kepada masyarakat Kota Banda Aceh untuk menyampaikan saran dan masukan yang konstruktif untuk pelayanan PDAM ke depan yang lebih baik,” jelas Taqwaddin.

Pihak Ombudsman juga mengapresiasi terhadap pembenahan yang telah dilakukan oleh PDAM serta telah melakukan inovasi dengan membuka gerai di Mall Pelayanan Publik (MPP) Kota Banda Aceh.

“Kami apresiasi terhadap perubahan yang telah dilakukan selama ini, dan kami berharap kepada masyarakat agar langsung melaporkan ke PDAM jika ada kendala atau keluhan yang dialami. Semoga pelayanan PDAM Tirta Daroy menjadi lebih baik untuk melayani publik ke depannya,” imbau Taqwaddin.

Ketua DPRK Banda Aceh Farid Nyak Umar dalam paparannya mengatakan bahwa DPRK mengapresiasi kerja PDAM selama ini yang sudah mulai membenahi dari dibandingkan dengan masa lalu. Namun tidak dapat dipungkiri juga bahwa masih banyak persoalan yang harus dibenahi oleh pimpinan PDAM sekarang, karena masih adanya keluhan warga yang kesulitan mengakses air bersih.

“Berdasarkan data, PDAM Tirta Daroy sudah membangun jaringan pipa sekitar 1.500 km untuk Sambungan Rumah (SR) bagi 63.000 pelanggan. Sehingga kita berharap PDAM dapat memberikan pelayanan yang maksimal berupa kualitas, kuantitas, kontiniunitas, dan keterjangkauan bagi masyarakat,” jelas Farid.

Sementara itu Direktur Utama PDAM Tirta Daroy T. Novrizal Aiyub menjelaskan, setiap keluhan yang disampaikan oleh warga langsung ditanggapi secara cepat, sehingga langsung terselesaikan.

“Kita akui masih banyak kekurangan, hal itu karena instalasi yang kita gunakan 70 % masih instalasi dasar Tahun 1975 yang mana pipanya berukuran kecil. Sehingga proses aliran air agak lambat. Selanjutnya terjadinya kebocoran pipa di jalan-jalan, dan termasuk juga penggunaan pompa hisab oleh pelanggan. Jadinya rebutan air dan daerah yang jauh airnya tidak kesampaian, seperti Lampineung, Lampulo, Meuraxa debit airnya jadi kurang,” ungkapnya.

T. Novrizal Aiyub menambahkan, dalam operasionalnya PDAM juga bergantung pada PLN, ketika PLN mati maka proses distribusi air juga terhenti. “Meski demikian, saat ini PDAM Tirta Daroy Banda Aceh masuk dalam kategori PDAM sehat di Aceh selain Aceh Besar, Bireuen, dan Aceh Tengah,” ujarnya.

Kemudian pada sesi tanya jawab secara langsung, Gemal Bakri salah satu peserta menanyakan apakah mungkin masyarakat mendapatkan air secara merata jika tidak menggunakan pompa air.

Selanjutnya Zainal Natura juga mengomentari terkait kinerja pegawai PDAM yang seakan-akan direktur bekerja sendiri tanpa ada wakil yang membantunya. Serta Ary Firmana yang menyarankan agar PDAM menggunakan jalur premium dari PLN supaya listriknya tidak padam dalam waktu yang lama.

Menanggapi hal tersebut, T Novrizal Aiyub mengatakan yakin kalau masyarakat tidak menggunakan pompa air maka distribusi air akan lebih bagus dan bisa dinikmati oleh semua penduduk Banda Aceh. “Sedangkan terkait jalur premium PLN harganya masih kurang terjangkau,” jawabnya.

Pada kesempatan akhir diskusi virtual tersebut, Ketua DPRK Banda Aceh Farid Nyak Umar menyampaikan beberapa saran kepada Dirut PDAM yaitu supaya air yang didistribusikan siap minum dan halal, melaksanakan survey kepuasan pelanggan, serta pembenahan manajerial dan sumber daya manusia yang ada.[rilis]