BANDA ACEH – Sebagai Kota Pusaka, Banda Aceh jangan ditumbuhkan ke atas tapi dikembangkan. Hal itu untuk menjaga keasliannya serta tidak mendatangkan kemacetan seperti di Jakarta ke Banda Aceh.
Demikian kata aktivis dan politisi, Teuku Achmad Fuad Haikal, lebih dikenal TAF Haikal, kepada portalsatu.com, dalam sebuah diskusi dengan beberapa orang dari komunitas berbeda di Banda Aceh, Senin 21 Nopember 2016.
“Banda Aceh tidak perlu membangun jalan tinggi seperti di Simpang Surabaya dan Darussalam sekarang. Tidak perlu juga mengubah Simpang Lima dan Peunayong, dan sebagainya. Banda Aceh, sebagai pusat Aceh dan repfesentatif kota untuk propinsi hanya perlu menangani hal-hal yang bersifat kenyamanan, seperti kebersihan, lancarnya lalu lintas, ketersediaan air bersih, dan sebagainya,” kata politisi partai NasDem ini.
Ia mengatakan, sebagai pusat Aceh, Kota Banda Aceh tidak bisa menumbuhkan bangunan-bangunan yang bersifat menyesakkan kota, tapi mengembangkan. Hal-hal yang bersifat bangunan besar dan tinggi perlu dialihkan ke wilayah Aceh Besar.
“Keberadaan tempat bersejarah untuk dipelihara sebagaimana asalnya penting di Banda Aceh. Misalnya, mengembalikan Peunanyong sebagai Pecinan, mempertahankan rumah-rumah tua seperti Mess Sabang, situs-situs sejarah dirawat, dan sebagainya. Jangan membangun kota di atas kota, tapi bangunlah kota baru,” kata TAF Haikal.[]


