TAPAKTUAN – Dampak banjir bandang yang melanda Kecamatan Meukek, Aceh Selatan akhir tahun 2015 lalu telah mengakibatkan rusaknya bangunan bak penampung air (intake) dan jaringan pipa distribusi utama di Desa Jambo Papeun.
Kerusakan fasilitas tersebut sampai saat ini belum mampu diperbaiki Pemkab Aceh Selatan karena minimnya anggaran yang tersedia. Karena itu, Pemkab setempat meminta kepada Pemerintah Provinsi Aceh dan kementerian terkait di Jakarta segera mengalokasikan anggaran untuk perbaikan sarana dan prasarana air bersih tersebut.
Kasie Sarana dan Prasarana Air Bersih Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (BMCK) Aceh Selatan, Zamrisal mengatakan, akibat rusaknya fasilitas tersebut, sampai saat ini sejumlah desa dalam Kecamatan Meukek masih krisis air bersih. Pasalnya, suplai air bersih dari sumber air utama dari Gunung Tuwi Mente, Desa Jambo Papeun tidak bisa dialiri secara lancar ke rumah pelanggan.
“Kami telah mengajukan proposal bantuan sejak awal tahun 2016 lalu ke dinas terkait di Provinsi Aceh dan kementerian terkait di Jakarta, tapi sayangnya sampai sekarang ini belum ditindaklanjuti,” kata Zamrisal di Tapaktuan, Selasa 8 November 2016.
Dia memperkirakan, untuk memperbaiki jaringan pipa distribusi utama sepanjang lebih kurang 600 meter serta bangunan intake yang hancur akibat dihantam banjir bandang akhir tahun 2015 membutuhkan anggaran Rp1 miliar lebih.
Anggaran sebesar itu tidak mampu tertampung dalam APBK, karena itu kami telah mengusulkan anggaran ke provinsi dan pusat. Kami berharap usulan tersebut dapat segera ditindaklanjuti sehingga persoalan krisis air bersih masyarakat Meukek bisa segera teratasi, harapnya.
Harapan senada disampaikan Akhyar, salah seorang warga Desa Jambo Papeun. Menurutnya, persoalan krisis air bersih yang melanda wilayah itu sejak akhir tahun 2015 sangat meresahkan masyarakat.
Soalnya, selama ini masyarakat setempat telah terbiasa dan dimanjakan dengan pasokan air air bersih dari sumber air utama Gunung Tuwi Mente yang langsung ke rumah penduduk. Sejak fasilitas pipa dan bangunan intake rusak, masyarakat mengalami kendala mendapatkan air bersih, ungkapnya.
Karena itu, pihaknya berharap pemerintah segera mengalokasikan anggaran untuk perbaikan kembali fasilitas yang telah rusak akibat bencana alam sehingga suplai air bersih ke sejumlah desa di wilayah itu dapat normal kembali.[]
Laporan Hendrik




