Karya: Jamaluddin Sulaiman
Tubuh-tubuh jiwa yang terpaku menanti hadirnya seberkas sinar cahaya kemenangan
Larut dalam pengharapan
Melintasi berbagai musim
Masih di sini berdiri
Bunga-bunga Jeumpa di dalam genggaman hampir layu
Mengering terlepas dari tangan
Namun dari Cosovo, Turki, Malaka, Dan Mekkah, atau Libya sesekali mereka masih datang menanyakan khabar tentang dirimu
Pelayaran pun sudah tak penting lagi dalam perang
Manusia sudah terbang bersama besi atau mengirim meriam-meriam dari langit tepat ke saku-saku musuh
Gerak-gerak yang kaku akan berubah melesat seperti angin setelah seribu naskah ilmu perang harus dibuka lagi
untuk mengenal wajah-wajah musuh
Dari zaman kapal galiung kejayaan
kapal mesin dan pesawat
Tangan belum sempat pun menggenggam
Telah dipatahkan Holland
Kini terbangun saat pantulan-pantulan wajah bisa ditatap dari ketinggian dan saling berbisik lintasi dunia
Sungguh kita masih asing
Dalam penantian yang sendirian dan sepi
Lambaian masih terlihat lemah melambai
Memanggil siapa saja yang berlalu
Wajah-wajah terpana menatap para
kafilah Nasrani yang kaya raya dan cantik, namun endatu tak menyuruhmu untuk itu
Zaman masih sama meski Utsmani sedang sekarat namun mereka masih bersyahadat, mereka adalah saudara
Jika masih bisa ucapkan salam
Ucapkanlah salam di pagi ini
Untuk ruh Sultan Selim II dan Sultan Alkahhar.
Loh Angen Kamis 9 Juli 2020.[]





