SUBULUSSALAM – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Subulussalam, Farida Husna, mengatakan jumlah penduduk miskin di Subulussalam masih tergolong tinggi. Mencapai 19,72 persen atau sekitar 16 ribu dari jumlah penduduk sebanyak 82 ribu jiwa. Kondisi ini katanya disebabkan realisasi program pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan belum maksimal.

“Dalam keterangannya angka kemiskinan pada tahun 2014 sekitar 19,72 persen, belum terjadi penurunan yang signifikan sampai sekarang,” katanya, Kamis, 7 Januari 2016.

Ia merincikan, pada tahun 2013 jumlah penduduk miskin di daerah itu sebesar 20,22 persen. Memang, katanya, terjadi penurunan tetapi tidak sampai dua persen.

Sedangkan jumlah pengangguran di Subulussalam berdasarkan data tahun 2014 katanya sebanyak 7 ribu orang atau 8,55 persen. Jumlah ini menurutnya setengah dari populasi penduduk miskin di daerah itu.

Masih tingginya jumlah masyarakat miskin dan jumlah pengangguran di Subulussalam katanya merupakan akibat dari program-program yang dibuat pemerintah belum menyentuh masyarakat bawah. Selain itu realisasi program juga tidak berjalan karena kurangnya pengawasan di lapangan.

“Memang pemerintah Kota Subulussalam sudah bagus membuat program, hanya saja pengawasan masih kurang sehingga tidak terealisasi dengan baik,” katanya.

Dalam mengurangi kemiskinan dan pengangguran ia menyarankan agar pemerintah setempat membuka lapangan pekerjaan yang lebih besar, seperti segera merealisasikan rencana pemko untuk membangun pabrik minyak goreng. Hingga saat ini katanya belum ada satupun lapangan kerja yang dikelola oleh pemerintah sehingga belum bisa menampung pengangguran yang ada. Kondisi itu diperparah dengan pemutusan kerja tenaga kontrak tahun lalu.

“Pegawai kontrak/honor yang jumlahnya ribuan di Kota Subulussalam yang telah diputuskan kontraknya mengakibatkan menambah pengagguran yang sudah ada, kondisi ini berpotensi meningkatnya aksi kriminalitas dan pencurian,” katanya.[] (ihn)

Laporan Wahda di Subulussalam