BANDA ACEH Lembaga Pendidikan Rumah Baca Aneuk Nanggroe (RUMAN) Aceh mendapat kunjungan dadakan spesial dari dua peneliti luar negeri di Gampong Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh, pada Sabtu 9 April 2016, malam.
Kedua peneliti tersebut adalah Prof. Anne McNevin, guru besar bidang politik Universitas Monash, Australia dan The New School for Social Research di New York. Sedangkan Dr. Antje Missbach merupakan antropolog University Monash Australia yang disertasi doktoralnya membahas diaspora Aceh di berbagai negara.
Mereka didampingi oleh Devi Riansyah AKS., M.Si., Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial pada Dinas Sosial Aceh. Kunjungan mereka disambut oleh Direktur RUMAN, Ahmad Arif, Sekretaris RUMAN Aceh, Riski Sopya S.Pd., beserta beberapa relawan yang sedang berkumpul.
“Mereka datang ke Dinas Sosial Aceh menanyakan lembaga yang pernah mengurus bantuan untuk pengungsi Rohingya. Seingat kami, RUMAN pernah aktif menangani Rohingya. Maka, kami bawakan mereka ke sini,” tutur Devi sembari tersenyum.
Dalam kunjungan tersebut, Dr. Antje mengungkapkan, mereka sedang melakukan penelitian tentang pengelolaan bantuan bagi etnis minoritas Rohingya yang terdampar di lautan Aceh pada Mei 2015 lalu.
Kita ingin mengetahui lebih jauh tentang realitas sesungguhnya para pengelola bantuan kemanusiaan untuk etnis Rohingya yang terusir dari negara mereka, ujar Antje yang mahir berbahasa Indonesia ini.
Lalu, Riski Sopya, Sekretaris RUMAN Aceh yang diamanahkan sebagai Koordinator Program #KitaSahabatRohingya, menuturkan pengalaman RUMAN mengelola donasi lebih dari Rp 800 juta selama periode Mei hingga Desember 2015 untuk pengungsi Rohingya di Aceh, khususnya yang berada di posko Blang Adoe, Aceh Utara.
RUMAN selalu berusaha membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa dalam setiap kegiatan, termasuk menyalurkan amanah kawan-kawan bagi saudara kita muslim Rohingya, ungkap Riski yang juga Kepala PAUD/TK Gratis Dhuafa RUMAN.
Sementara itu, Pendiri RUMAN Aceh, Ahmad Arif menjelaskan bahwa interaksi mereka dengan etnis Rohingya tidak melulu soal materi. Namun memperlakukan mereka seperti lazimnya manusia lain.
Kita berinteraksi dengan mereka seperti keluarga sendiri. Bukan sebagai objek penghasil kekayaan pribadi atau keuntungan kelompok tertentu. Alhamdulillah, hal tersebut berhasil, ujar Arif dalam siaran persnya.[]

