BLANGKEJEREN – Korban banjir dan tanah longsor di Desa Setul, Kecamatan Tripe Jaya, Kabupaten Gayo Lues, yang menerima bantuan Jatah Hidup (Jadup) diduga dipungli oleh oknum perangkat desa. Keadaan ini membuat sebagian warga merasa ada yang tidak beres.

Salah seorang warga Desa Setul, Kecamatan Tripe Jaya, yang meminta namanya dirahasiakan, Senin, 6 Juli 2026, mengatakan warga Setul yang telah menerima bantuan Jadup korban banjir dan tanah longsor dari pemerintah dikutip uang Rp100 ribu per KK oleh bendahara desa.

“Di desa kami ada masyarakat mendapat bantuan Jadup, tapi setelah diterima ada perangkat desa mengutip uang Rp100 ribu per KK, katanya untuk penghargaan kepada pihak tertentu, apakah boleh seperti itu,” tanya warga tersebut kepada wartawan.

Berdasarkan informasi yang beredar, kata warga ini, uang yang dikumpulkan itu akan diserahkan kepada pihak kecamatan. “Banyak warga yang merasa keberatan dengan kutipan uang ini karena warga juga sedang tertimpa musibah, tetapi warga tidak berani berkomentar,” ujarnya.

Kutipan uang Rp100 ribu per KK penerima Jadup itu dikatakan oleh perangkat desa tersebut setelah melalui musyawarah. Namun, banyak warga mengaku tidak mengetahui masalah kutipan tersebut. Alasan perangkat desa, hal itu karena warga tidak ikut saat rapat.

“Kalaupun datang saat rapat hasilnya sudah ada, makanya (sebagian) masyarakat malas datang saat rapat. Dan rapatpun hanya masyarakat yang setuju yang dipanggil,” kata sumber tadi.

Bendahara Desa Setul, Jayadi, membenarkan telah mengumpulkan sejumlah uang dari penerima Jadup korban banjir dan tanah longsor di Desa Setul. Uang itu, kata dia, langsung diberikan kepada Camat dan pihak yang telah membantu saat bencana banjir lalu.

“Jumlah penerima Jadup di Desa Setul 87 KK, dan masing-masing KK memang kami kumpulkan Rp100 ribu, bukan kutipan,” kata Jayadi melalui telepon saat dikonfirmasi portalsatu.com.

Bendahara Desa Setul ini mengaku mengumpulkan uang dari penerima Jadup itu berdasarkan “perintah orang tua di desa”, bukan atas kemauannya sendiri.

“Uang itu dikumpulkan setelah melalui rapat. Karena saya masih muda, makanya disuruh saya yang mengumpulkanya dari warga, dan uang itu sudah saya berikan ke kecamatan dan ke pihak yang membantu saat bencana,” pungkasnya.[]