JANTHO – Senior Manajer Museum Rekor Indonesia (Muri), Yusuf Ngadri mengungkapkan, ada kriteria yang sesuai dengan tujuan lembaga Muri sehingga membuat kegiatan penambalan jalan sepanjang 100 km dengan waktu 24 jam nonstop yang dilakukan oleh Satlantas Polres Aceh Besar menjadi rekor baru di Indonesia.

“Muri harus mengapresiasi sebuah ide. Ketika sebuah komunitas, sebuah kedinasan, melakukan sesuatu yang bukan fungsi utamanya, tetapi bermanfaat bagi khalayak. Ini merupakan bagian dari ketika Muri itu didirikan, yakni adalah menginspirasi, memotivasi agar setiap warga negara ini memberikan yang terbaik untuk sesama dan negara,” ungkap Yusuf Ngadri sesaat setelah menyerahkan sertifikat Muri Satlantas Polres Aceh Besar, di Geurutee Park Rest Area, Aceh Besar, Minggu, 24 September 2017.

Dia juga menjelaskan, di samping memang secara superlatif kegiatan ini memang dilakukan luar biasa dan belum pernah dilakukan oleh Satlantas mana pun di Indonesia. Oleh karena itu, apa yang telah dilakukan ini dapat memotivasi komunitas ataupun siapa saja yang peduli terhadap keselamatan para pengendara dengan memperbaiki jalan dan sebagainya.

“Seratus kilometer dengan berjalan kaki sambil menambal jalan dengan 403 lubang, itu sesuatu yang luar biasa. Oleh karenanya, kami mencatat ini sebagai rekor baru karena belum pernah ada satuan lantas di wilayah republik tercinta ini yang melakukan tambal jalan dengan berjalan kaki sepanjang 100 km,” jelasnya.

Pemberian rekor Muri kepada Satlantas Polres Aceh Besar dilakukan bukan tanpa sebab. Berdasarkan pantauan portalsatu.com, perwakilan Muri ini telah melakukan pemantauan tim rekoris sejak kilometer kesembilan di wilayah Kecamatan Cot Gle, Aceh Besar (Sabtu, 23 September 2017 kemarin) hingga sampai tim tiba di finish yang ada di kaki Gunung Geurutee, hari ini.

Selain itu, dia juga mengungkapkan, selama ini beberapa Satlantas yang ada di Indonesia telah banyak memecah rekor Muri. Akan tetapi, tidak ada yang tindakan langsung seperti yang dilakukan oleh para personel Satlantas Aceh Besar.

“Kebetulan belum pernah ada, ini merupakan rekok baru yang dilakukan oleh Satlantas. Karena selama ini yang kami catat Satlantas lebih kepada sifatnya simbolik. Sedangkan ini langsung pelaksanaannya di jalan dan langsung berguna bagi pemakai jalan,” ungkap Yusuf Ngadri.

“Rekor-rekor yang dicatat sebagian kecil dalam catatan kami lebih banyak berupa edukatif dan simbolik,” ungkapnya lagi.

Adapun beberapa rekor yang pernah dipecahkan oleh Satlantas Indonesia sepengetahuannya adalah sebagai berikut:

Satlantas Polda Jawa Tengah, peluncuran program pelayanan lalu lintas terbanyak dari Polda. Tujuh puluh lima program layanan lalu lintas, di antaranya dalam bentuk aplikasi layanan yang hari ini (24 September 2017), di-launching di Semarang.

Satlantas Polres Pekalongan mengedukasi anak-anak Paud dengan menggambar tanda lalu lintas, yang tidak kurang 20.000-an Paud menggambar untuk mengenal tanda-tanda lalu lintas.  Mungkin secara persuasif saudara-saudara kita melakukan di Pekalongan, 19 September 2017 lalu.

Di Pekan Baru, ada momunem tertinggi dari kendaraan karena bekas kecelakaan.

Satlantas Polres Brebes, safety riding dan safety driving dengan sarana kendaraan dengan jenisnya yang terbanyak.

Di Sukabumi, Senam Gatur Lantas (Gerakan Pengaturan Lalu Lintas) yang dilakukan di beberapa tempat yang terakhir dilakukan dan diikuti sebanyak 9.500 orang.

Sedangkan untuk di Aceh, dia mengatakan pernah dilakukan oleh AKBP Adnan atau dikenal “Polisi meu pep-pep” berupa penandatanganan MoU Komitmen bersama antimenerobos lampu merah oleh pengendara yang terbanyak.[] (*sar)