LHOKSUKON – Tiga orang RBT (ojek) yang sempat diamankan ke Polres Aceh Utara bersamaan dengan penangkapan anggota Kelompok Kriminal Bersenjata ‘Setan Botak Peureulak’, telah dipulangkan kepada keluarganya masing-masing pada Rabu, 29 Agustus 2018.
Dua di antaranya, dihadirkan dalam konferensi pers yang digelar di aula Tribrata Polres Aceh Utara, Jumat, 31 Agustus 2018 sore, yaitu Syahrul, warga Gampong Meunasah Asan, Kecamatan Madat, Aceh Timur dan Faisal, warga Gampong Meunasah Panton, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.
Sementara satu tukang ojek lainnya, Bahagia, warga Gampong Meunasah Asan, Madat, tidak hadir. Mereka hadir didampingi perangkat gampong dan tokoh masyarakat Meunasah Asan.
Syahrul hadir untuk meluruskan informasi yang beredar di media sosial (medsos), terkait kakinya yang patah dan dikabarkan karena dipukul anggota Polres Aceh Utara. Ia mengatakan kakinya patah akibat kecelakaan tahun 1996 silam.
“Saya sehat. Mereka (kelompok kriminal, red) minta diantar dari Gampong Meunasah Asan ke Matang Kupula, Madat. Biasanya tarif ojek ke situ Rp 20 ribu, tapi belum dikasih, tidak ada perjanjian berapa ongkos untuk mengantar mereka,” kata Syahrul kepada awak media mengisahkan.
Hal lainnya diungkap Faisal, tukang ojek sekaligus teman Syahrul. “Saya juga ikut antar. Ada pemuda yang bilang, ada sewa. Saat saya datangi dan tanya mau ke mana, dia jawab mau ke Matang Kupula. Waktu naik ke kendaraan, dikasih tas ke saya dan saya taruh di depan, lalu saya jalan, terus membawanya,” ucap Faisal.
Dalam perjalanan, Faisal kembali bertanya kepada salah satu tersangka yang diboncengnya, ia bertanya asal pria tersebut. “ Ia jawab, habis mancing dan boat rusak, ini mau pulang ke Idi, Aceh Timur, begitu dia bilang,” cerita Faisal.
Karena pria yang diboncengnya ‘nyeker–berjalan tanpa alas kaki, Faisal kembali menanyakan, selop (sandalnya) mana? Pria itu kembali menjawab sudah masuk lumpur karena tadi capek saat menarik boat.
Setiba di Matang Kupula, Faisal dan pria tersebut berhenti untuk menunggu yang lain. “Tiba-tiba datang polisi menyuruh tiarap, maka kami langsung tiarap. Saya tidak dipukul, karena di dalam mobil polisi ada yang bilang, “ini RBT”, jadi saya cuma diborgol saja. Jadi, apa yang dikatakan di medsos itu tidak benar,” terang Faisal.
Sementara itu, Tgk. Wahyuddin, tokoh masyarakat Meunasah Asan mengucap syukur kepada Allah yang telah menyelamatkan warganya yang tadinya dikira terlibat.
”Alhamdulillah, kami berterima kasih kepada pihak kepolisian yang bisa membedakan mana yang salah, mana yang tidak. Mereka juga sudah pulang ke kampung,” kata Wahyuddin.
“Tadi polisi juga sudah datang membesuk langsung ke rumah. Saat ini Bahagia tidak datang karena memang sedang memeriksakan diri ke rumah sakit. Pihak kepolisian telah menanggung semua pengobatannya. Bahkan, kata polisi, jika terjadi sesuatu pada Bahagia maka akan ditanggung,” terang Tgk. Wahyuddin.[]




