LHOKSEUMAWE Terminal Penerima dan Regasifikasi LNG Arun di Lhokseumawe sudah dua tahun beroperasi setelah diresmikan Presiden Jokowi, 9 Maret 2015. Akan tetapi, sampai saat ini Pemerintah Aceh melalui Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA) belum memanfaatkan peluang kepemilikan saham 30 persen pada proyek regas itu.
Pengamat Ekonomi Universitas Malikussaleh (Unimal) Wahyuddin Albra turut merasa prihatin terkait hal itu. Ia menilai perlu ada komitmen yang baik dan cepat dari Pemerintah Aceh untuk segera mengucurkan investasi pada proyek dikelola PT. Perta Arun Gas (PAG) tersebut.
Saya berpikir Pemerintah Aceh saat ini belum benar-benar serius untuk maju. Kenapa belum disetor hingga saat ini, saya kurang paham. Dua tahun berjalan (proyek regas), mestinya Pemerintah Aceh sudah ambil bagian, tapi ini malah tidak, ujar Wahyuddin menjawab portalsatu.com, Rabu, 8 Maret 2017, malam.
Karena Pemerintah Aceh melalui PDPA belum memiliki saham atau investasi pada proyek regas itu, kata Wahyuddin, tentu tidak mendapatkan deviden untuk meningkatkan Pendapatan Asli Aceh jika PAG telah menghasilkan keuntungan.
Secara resminya memang belum ada PAD (Pendapatan Asli Daerah) bagi Aceh karena belum mau berinvestasi pada proyek itu. Walaupun ada manfaat, ya sekadar CSR biasa untuk warga lingkungan, kata Wahyu.
Wahyu berharap dengan lahirnya Peraturan Pemerintah (PP) tentang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe belum lama ini, dan sudah dua tahun berjalan proyek regas tersebut, Pemerintah Aceh segera mengambil langkah tepat dan cepat untuk membawa Aceh bangkit dari keterpurukan.
Ambillah bagian dari program-program multinasional itu dengan berinvestasi. Jangan hanya menonton, tegas Wahyu.
Kondisi PDPA
Sebelumnya, Asisten II (Bidang Perekonomian) Setda Aceh Zulkifli Hs yang juga Ketua Badan Pengawas PDPA mengatakan, Badan Usaha Milik Aceh (BUMA) ini sudah mulai sehat.
Kenapa kita sudah mulai sehat, pertama kita PDPA ini sudah membuat business plan (rencana bisnis). Kemudian manajemennya itu sudah terisi. Yang pertama direktur utama, habis itu ada direktur perdagangan dan industri. Kemudian sudah ada badan pengawas, saya, kemudian salah seorang anggota. Kemudian sudah fit dan proper test, yang pertama direktur keuangan, direktur migas, dan anggota badan pengawas, kata Zulkifli menjawab portalsatu.com tentang perkembangan PDPA.
Dengan demikian, Zulkifli melanjutkan, manajemen PDPA sudah siap. Kemudian mereka ini rutinitas secara full sudah bekerja, berkantor di lantai tiga kantor gubernur. Jadi, artinya manajemen Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh itu sudah berkantor sebagaimana seharusnya secara profesional, dibantu sekretariatnya, ujar Zulkifli ditemui di kompleks Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, 13 Februari 2017, malam.
Jadi, mereka sebagai perpanjangan tangan dari Pemerintah Aceh untuk melakukan usaha-usaha untuk mendapatkan investasi yang sebanyak-banyaknya untuk Aceh dalam membangkitkan roda ekonomi Aceh. Ini sudah banyak hal yang dilakukan, dan sudah mendatangkan juga devisa walaupun dalam jumlah kecil. Artinya, kalau selama ini PDPA itu dianggap dalam kondisi emergency bahkan sakit, sekarang sudah mulai pulih, ujar dia lagi.
Zulkifli menyebut manajemen PDPA saat ini merupakan orang-orang yang kredibel. Jadi tiga orang ini, direktur keuangan, direktur migas, anggota badan pengawas, kita ajukan ke gubernur untuk selanjutnya dilantik, katanya.
Ditanya mengapa PDPA belum menyetor saham 30 persen untuk proyek Terminal Penerima dan Regasifikasi Arun Lhokseumawe jika sudah mulai sehat, Zulkifli mengatakan, Jadi begini, ini kan masih berproses. Mereka itu baru bangkit, manajemennya saja baru selesai rekrutmen pada akhir Januari kemarin. Jadi, kita harapkan dalam waktu dekat ini dilantik, setelah dilantik ini kan berproses terus.[] Laporan Muhammad Saifullah




![[FOTO] Rusa Plang di Lhokseumawe](https://portalsatu.com/wp-content/uploads/2023/03/Rusa-by-Jamaluddin-portalsatu-com-March-2023.jpg)
