Taufik Sentana
Ikatan Dai Indonesia. Sedang menyusun Buku Bahagia Setiap Saat
Kata Nabi, Allah selalu hadir saat seseorang merasa hancur hatinya. Bisa karena sakit, kesusahan atau musibah lainnya. Maka wajar bila kita disyariatkan untuk saling mendoakan, membantu dan memudahkan serta menjenguk yang sakit dst. Walau sejatinya tiada yang rugi bagi yang mukmin, sebab setiap hal yang menimpanya menjadi kebaikan, tentu bila sabar dan bersyukur. Tapi tentu sulit untuk sampai pada level bahagia dalam kondisi apapun, bisa berkata Alhamdulillah fi kulli hal, segala puji bagi Allah di setiap keadaan.
Untuk itu setiap kita mesti belajar tentang penerimaan diri, saling mendukung dan menghargai orang orang dekat kita sebaik mungkin. Sikap penerimaan diri tadi, bisa mendatangkan rasa ikhlas dan ridha serta memberikan energi positif untuk bisa bertindak lebih baik, bahkan memungkinkan adanya Pertolongan Allah secara langsung atau berangsur. Dari sisi ini, penghibur hati kita yang paling relevan adalah diri kita sendiri, kitalah yang paling merasakan secara alamiah apa penyebabnya dan apa proyeksi penyelesaiannnya.
Sebagai muslim, misalnya, kesusahan dan semacamnya bisa menjadi medium taqarrub ilallah, introspeksi diri, beristighfar bahkan bertaubat. Kita juga mutlak berhusnu zhan terhadap Perbuatan Allah dari kejadian kecil hingga kejadian yang besar. Sesungguhnyalah, tiada penghibur hati yang terbaik selain bersegera merasa rendah di hadapanNya, mengangkat tangan dan meminta ilhamNya untuk pertumbuhan kita secara pribadi ataupun komunal, di keluarga dan masyarakat.
Setelah itu barulah mungkin kita tetap berharap dukungan dari orang lain, melakukan perjalanan ke tempat tertentu, melakukan hal baru yang mendukung perbaikan mental dan fisik kita, sambil terus mengikat diri (tawakkal) pada Allah dan memaksimalkan ikhtiar, maka Benarlah FirmanNya: Wa ilaa Rabbika Farghabb.[]


