ACEH UTARA – Sebanyak 111 pengungsi etnis Rohingya mendarat di pantai Meunasah Baro, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, Selasa, 15 November 2022, dini hari. Aceh Utara kembali kedatangan pengungsi Rohingya gelombang berikutnya sebanyak 119 orang, yang mendarat di kawasan Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara, Rabu, 16 November 2022.
Pengungsi gelombang pertama yang sebelumnya ditampung sementara di meunasah (surau) Desa Meunasah Lhok, telah direlokasi oleh warga setempat ke Aula Kantor Camat Muara Batu. Pengungsi gelombang kedua juga belum mendapatkan kejelasan dari Pemerintah mengenai lokasi penampungan mereka untuk sementara.
Yayasan Geutanyoe (YG) mendesak Pemerintah baik di tingkat pusat maupun Provinsi Aceh dan Kabupaten Aceh Utara segera mengambil kebijakan terkait solusi tempat penampungan sementara bagi para pengungsi Rohingya yang secara keseluruhan berjumlah 230 orang tersebut. “Kebijakan ini penting sebagaimana amanat Perpres No. 125 tahun 2016,” kata Nasruddin, Humanitarian Coordinator YG, dalam keterangannya, Rabu (16/11).
Berdasarkan data diperoleh YG, pengungsi Rohingya itu terdiri dari 126 laki-laki dewasa, 64 perempuan dewasa, 49 anak-anak, dan 1 balita usia 10 bulan.
“Mereka saat ini sangat membutuhkan penanganan segera, tidak hanya dari sisi kebutuhan tempat tinggal, tapi juga kebutuhan untuk konsumsi dan perawatan kesehatan. Terutama bagi perempuan dan anak-anak, setelah mereka terdampar sekian lama di perairan laut lepas,” ujar Nasruddin.
Nasruddin menyebut atas nama kemanusiaan tentu saja nasib pengungsi Rohingya tidak terbatas pada tanggung jawab pemerintah saja. Oleh karena itu, YG menyerukan berbagai pihak untuk peduli dalam bentuk apapun untuk dikontribusikan.
YG juga meminta Pemerintah dalam hal ini Pj. Gubernur Aceh Achmad Marzuki segera membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Pengungsi Luar Negeri (PPLN) Tingkat Provinsi Aceh. Hal ini diperlukan untuk kejelasan mengenai badan yang bertanggung jawab sebagai leading dalam isu penanganan pengungsi luar negeri.
“Bagaimanapun, posisi geografis Aceh yang berhadapan dengan Laut Andaman dan berada di perairan Selat Malaka, adalah salah satu di antara jalur perlintasan laut tersibuk di dunia. Tidak hanya sebagai jalur perlintasan barang, tetapi juga orang, yang termasuk di antaranya menjadi jalur perlintasan para pengungsi luar negeri, terutama para pengungsi etnis Rohingya. Karena itu, pesisir Aceh selalu akan menerima para pengungsi luar negeri yang terdampar di laut kawasan tersebut,” tutur Nasruddin.
YG menyatakan komitmen untuk mendukung dan bekerja sama dengan berbagai pihak, terutama dengan pemerintah, dalam isu kemanusiaan terkait penanganan pengungsi luar negeri di Aceh.
“Kami siap melakukan komunikasi dan koordinasi dengan berbagai unsur pemerintah terkait dan pihak-pihak lainnya demi kelancaran dan maksimalnya pelayanan kemanusiaan dalam penanganan pengungsi luar negeri,” pungkas Nasruddin.[](ril)




