LHOKSEUMAWE – Pengungsi Rohingnya di Lhokseumawe menyiapkan ikan asin untuk menu berbuka puasa di bulan Ramadhan tahun ini. Sebagian ikan asin itu juga dikirim ke saudara mereka di Medan, Sumatera Utara. Lantas, bagaimana teknik pengolahan ikan asin ala pengungsi Rohingya?
Pengungsi Rohingya berada di Kamp Balai Latihan Kerja (BLK), Desa Meunasah Mee, Kandang, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe, sudah hampir 10 bulan. Saat ini tersisa 56 pengungsi setelah sebagian dari mereka dipindahkan ke Padang Bulan, Medan, 25 Maret 2021 lalu.
Aktivitas mereka di Kamp BLK Kandang saat ini masih seperti biasa. Beberapa lembaga dan NGO lokal masih menjalankan berbagai program kegiatan di sana. Baik untuk kelas edukasi dari Yayasan Geutanyoe, distribusi makanan dan buah oleh JRS, distribusi air oleh Human Initiative dan kegiatan lainnya baik dari PMI dan ACT.

Selain aktivitas yang diberikan lembaga-lembaga tersebut, saat ini terdapat pemandangan baru di Kamp BLK Kandang yang diinisiasi sendiri oleh para pengungsi Rohingya. Tak seperti biasanya, lapangan voli dan sepak takraw yang seringkali terlihat sepi saat pagi dan siang hari sekarang dialihfungsikan para remaja Rohingya untuk menjemur ikan. Mereka setiap hari melakukan hal tersebut sebelum kelas edukasi dimulai.
Pengungsi Rohingya itu mengaku sangat menyukai ikan laut karena di tempat asalnya pun mereka juga makan ikan laut dalam berbagai bentuk olahan. Salah satunya dijemur untuk dibuat ikan asin. Selain itu, cuaca di sini juga sangat bagus untuk menjemur ikan.
Laibullah, salah satu remaja pengungsi Rohingya mengatakan mereka membeli ikan dalam jumlah banyak per setiap orangnya, kemudian dijemur untuk dikonsumsi dan dikirimkan ke Medan bagi saudaranya yang saat ini berada di Medan.
“Di sini kami dengan mudah bisa mendapatkan ikan laut segar dari nelayan ataupun tempat penampungan ikan. Berbeda dengan di Medan, teman-teman yang di sana mengaku sulit mendapatkan ikan segar dan harganya terbilang mahal sehingga mereka meminta kami untuk membuat dan mengirimkan ikan asin ke sana,” kata Laibullah kepada Oji dan Muji, fasilitator edukasi Yayasan Geutanyoe.
“Sebentar lagi juga akan memasuki bulan Ramadhan, kami menyiapkan ikan asin ini juga sebagai bentuk persiapan menu berbuka puasa,” tambah Laibullah, sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis dikirim Yayasan Geutanyoe kepada wartawan, Ahad, 11 April 2021.

Pihak Yayasan Geutanyoe mengatakan, dilihat dari cara warga Rohingya mengerjakan ini semua, “kita dapat melihat bahwa betapapun menjadi pengungsi itu tidak mudah, namun mereka tetap dapat hidup mandiri. Menjadi pengungsi tidak berarti tidak dapat berdikari di atas kaki sendiri”.
Melihat antusias para pengungsi remaja ini, Yayasan Geutanyoe menyambutnya dengan sangat baik dan akan memfasilitasi kebutuhan mereka untuk pengolahan ikan asin tersebut.
Adapun jenis dan teknik pengolahan ikan yang dilakukan pengungsi Rohingya itu merupakan sesuatu yang khas berasal dari etnis mereka sendiri. Jenis ikan yang diolah beragam, seperti ikan tali pinggang, ikan teri, ikan tembang, ikan bilih, dan beberapa jenis lainnya.
Selain itu teknik pengolahan ikan asin dari pengungsi Rohingya juga berbeda dengan teknik yang dilakukan masyarakat Aceh pada umumnya. Di mana setelah dibersihkan dijemur sekali, kemudian saat benar-benar sudah kering, sebagian ikan diasinkan dengan direndam dalam air garam, lalu dijemur kembali dua hingga empat hari tergantung cuaca.
Menurut mereka, teknik menjemur ikan seperti ini sangat baik, karena ikan tidak hancur dan tidak bau. [](*)







