LHOKSUKON – Puluhan kilogram pempeng atau kerang sungai terhampar di mobil Pick-up yang diparkir di pinggir lintasan jalan Medan – Banda Aceh, Gampong Meunasah Dayah, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara. Pempeng asal Banda Aceh itu dijual dengan harga Rp 7 ribu/kilogram.
“Pempeng ini kami ambil sendiri di sungai kawasan Banda Aceh. Kami bekerja bertiga dan punya toke (bos) dengan sistem bagi hasil,” kata Pendi, 22 tahun, warga Gampong Serba Jaman Tunong, Lhoksukon, kepada portalsatu.com, Rabu, 11 Januari 2017.
Ia menyebutkan, omset penjualan setiap harinya bervariasi, berkisar antara Rp 800 ribu hingga di atas Rp 1 juta.
“Saya sudah tiga tahun bekerja seperti ini, hasilnya lumayan. Apalagi bagi saya yang masih lajang. Saat pengambilan di sungai Banda Aceh, biasanya bak belakang mobil penuh. Dalam satu hingga tiga hari, semua pempeng ludes,” ujarnya.
Selama itu, lanjutnya, ia menjaga agar pempeng tidak membusuk. “Jika sudah mengering, pempeng kami siram dengan air, begitu seterusnya. Lihat saja, meski sudah kami bawa sejak kemarin, masih banyak pempeng yang masih hidup. Pada dasarnya pempeng ini seperti kerang pada umumnya juga, hanya orang Aceh menyebutnya pempeng. Jika beli 1 kg Rp 7 ribu, tapi jika 4 kg, cukup bayar Rp 25 ribu saja,” jelas Pendi.
Pemuda berkulit hitam itu menambahkan, saat ini (siang, Rabu), ia dalam perjalanan menuju lokasi kampanye rapat umum Partai Aceh di Landing, Lhoksukon.
“Kami pendukung Mualem dan Cek Mad. Ini kami mau menuju lokasi kampanye. Sambil memberikan dukungan, kami bisa menjajakan dagangan,” ucap Pendi tersenyum. []



