Kamis, Juli 25, 2024

Spanduk Dukungan Bustami Maju...

LHOKSEUMAWE - Sejumlah spanduk berisi dukungan kepada Bustami Hamzah untuk mencalonkan diri sebagai...

Yayasan Geutanyoe Rayakan Hari...

LHOKSEUMAWE - Yayasan Geutanyoe merayakan Hari Anak Nasional tahun 2024 bersama 227 anak...

Hendry Ch Bangun Tanggapi...

JAKARTA - Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Hendry Ch Bangun menegaskan,...

Puluhan Personel Polres Aceh...

LHOKSUKON - Polres Aceh Utara melakukan tes narkoba melalui metode tes urine menggunakan...
BerandaNewsPensiunan Jenderal TNI...

Pensiunan Jenderal TNI Masuk Daftar Hitam Negara Singapura

JAKARTA – Letjen TNI (Purn) Johannes Suryo Prabowo mengalami kejadian tidak menyenangkan saat transit di Bandara Changi, Singapura, Rabu (17/8) lalu. Mantan Wakil Kepala Staf TNI AD itu masuk daftar hitam imigrasi Negeri Singa.

Suryo mengatakan alasan pihak Singapura mem-blacklist dirinya sangat tidak jelas. Selama satu jam mantan Kepala Staf Umum itu diwawancara panjang lebar dan ditanya hubungan dengan orang yang tak dikenalnya bernama Indra M.

Suryo baru pulang dari Fiji dengan menggunakan maskapai Fiji Airways FJ361. Dia tertahan saat ingin mengambil bagasi. Suryo harus pindah pesawat untuk kembali ke Jakarta karena ingin mengikuti acara 17 Agustus di kampung halamannya, Semarang, Jawa Tengah.

Jenderal yang dikenal dekat dengan Prabowo itu membagi cerita ini bukan untuk kepentingan pribadi. Tetapi, lanjutnya, jika seorang pensiunan jenderal bintang tiga diperlakukan seperti itu gimana dengan warga biasa. 

“Sangat mungkin WNI yang biasa-biasa saja akan dengan mudah dilecehkan oleh imigrasi Singapura,” tuturnya dikutip dari Facebook Suryo Prabowo, Jumat (19/8).

Dengan kejadian ini, Suryo berharap pemerintah meninjau ulang kerjasama di bidang kontraterorisme dan kerjasama bilateral lainnya. Baginya, Singapura jelas-jelas telah menunjukkan perilaku tidak bersahabat dengan rakyat Indonesia. 

Namun jebolan terbaik Akmil 1976 itu pesimis pemerintah mau peduli terhadap nasibnya. “Lalu pemerintah dan DPR tidak menilai ini sebagai skandal, bahkan diam saja karena menganggap enggak penting-penting amat untuk direspons,” tuturnya. 

Terlebih, lanjutnya, sebagai pensiunan dirinya kerap melontarkan kritik tajam. “Emangnya pensiunan seperti saya ini mewakili dignity, atau martabat Bangsa Indonesia?” tuturnya.

“Lagi pula sekarang ini pemerintah kan lebih bisa memahami, memaafkan, dan membela perilaku negara asing daripada bangsanya sendiri,” tandasnya.[] sumber: merdeka.com

Baca juga: