BANDA ACEH – Masyithah Alzeyra dari Himpunan Pariwisata Indonesia HPI, yang bekerja sebagai volunteer di Museum Aceh mengatakan, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Aceh dalam sehari mencapai seratus orang ke atas. Hal itu dikatakannya di Museum Aceh, Banda Aceh, Minggu 29 Juli 2018.
“Minat terbesar dari para wisatawan Malaysia ke Aceh, pertama adalah karena Aceh pernah diguncang gempa dan tsunami, sekaligus untuk melihat benda-benda sejarah Aceh,” katanya.
Ditanya apakah secara keseluruhan lebih banyak masyarakat Aceh yang mengunjungi Museum Aceh, atau pengunjung dari Malaysia, ia mengatakan, masyarakat Aceh yang datang umumnya adalah dari kalangan anak-anak TK, atau pelajar dalam rangka kegiatan kunjungan yang dilakukan oleh sekolah-sekolah mereka.
“Wisatawan dari Malaysia sangat menyukai sejarah, karena mereka tahu bahwa dahulu Istri dari Sultan Iskandar Muda adalah berasal dari Pahang,” katanya.
Soal tiket, untuk pengunjung yang ingin melihat peninggalan benda-benda sejarah yang ada di museum dan Rumoh Aceh, pengunjung membayar tiket per orang tiga ribu Rupiah untuk wisatawan lokal, dua ribu Rupiah untuk anak-anak, dan lima ribu Rupiah untuk wisatawan asing.
“Yang dari Malaysia terutama dari kalangan orang-orang yang sudah berusia tua sangat fokus pada data-data sejarah yang ada di Museum Aceh, dan terkadang mereka akan bertanya banyak hal tentang sejarah masa lalu Kerajaan Aceh Darussalam,” kata Masyitah.
Para petugas Museum Aceh lainnya juga mengatakan, turis Malaysia sesampai di Aceh, pertama akan mengunjungi Museum Tsunami, Museum Aceh, dan situs-situs sejarah dan religi lainnya, dan pada agenda ke dua, akan digunakan untuk mengunjungi pantai- pantai yang ada di Banda Aceh, sementara hari terakhir mereka akan ke Sabang sebelum kembali lagi ke Malaysia.
“Biasanya para turis dari Malaysia ke Aceh menggunakan paket tour wisata kunjungan ke Aceh empat hari tiga malam,” kata Masyithah.
Selain turis dari Malaysia, wisatawan dari negara lain yang datang ke Aceh untuk melihat benda-benda sejarah adalah dari Belanda dan Jepang.
“Turis asing dari Eropa umumnya mereka datang secara perorangan, dan kedatangan mereka ke Aceh tidak khusus ingin melihat benda-benda sejarah, bulek jak u Aceh pasti na tujuan,” kata salah seorang penjaga gerbang.
Sementara itu di gedung galeri yang sedang dipersiapkan sebagai tempat ruang untuk acara pergelaran pameran sejarah di PKA 7, terlihat para pekerja hampir siap mengecat bangunan, mereka bekerja penuh waktu, dari pagi hingga pukul sepuluh malam.
“Kami menyiapkan tempat ini untuk pergelaran pameran sejarah di PKA 7 sejak dua minggu lalu, dan kini persiapan sudah pada tahap finishing,” kata pekerja.[]




