Pesatnya perkembangan teknologi berdampak pada perubahan perilaku masyarakat secara umum, termasuk dunia pendidikan dan industri. Perilaku instan, abai dan alineanasi merupakan bagian dari dampak negatif teknologi yang dimaksud.
Hal itu menyebabkan peran guru di masyarakat bisa terkikis atau semakin berat. Terkikis bilamana orientasi pembelajaran hanya pada konten dan teks, sebab semua info lengkap dan aplikasinya mudah diakses dengan berbagai media. Pun para siswa pasti cenderung cepat jemu dan lelah secara mental dan fisik.
Adapun perihal peran yang semakin berat yakni, seorang guru tidak hanya beradaptasi dengan laju perkembangan teknologi, melainkan berupaya juga menjembatani kemajuan tersebut sebagai konteks dan faktor yang memengaruhi perkembangan belajar (pribadi) siswanya. Misal, siswa yang kecanduan game online atau terpapar efek negatif media, akan mengganggu daya belajarnya, hingga turun minatnya, mudah marah, bosan dan mungkin destruktif.
Di tengah derasnya laju perkembangan teknologi dan digitalisasi segala bidang yang bisa mengaburkan peran guru, setidaknya ada peran istimewa lain yang justeru tak akan tergerus oleh kemajuan dan kecerdasan buatan, yaitu peran persuasif guru dari segi humanisme. Sentuhan pribadi yang menyentuh hati siswa, kasih sayang, perhatian dan dorongan yang tulus untuk memberdayakan potensi terbaik siswa.
Muatan peran seperti di atas akan selalu update dan diperlakukan, bahkan sangat dibutuhkan, selama seorang guru dapat membangun interaksi positif dengan para siswanya. Yaitu interaksi yang saling menghargai dan penuh keakraban dan pengertian.
Dengan peran lunak di atas, seorang guru bahkan bisa membantu menyelesaikan masalah pribadi siswa yang berkaitan dengan lingkungan sosial ataupun akademik. Sebab, makna lain menjadi guru adalah menginspirasi dan mengilhami agar kebaikan dan nilai kebenaran tertularkan.[]
Taufik sentana
Berkhidmat di pendidikan Islam sejak 1996. Kini mengabdi di MTs Harapan Bangsa dan Anggota pengembang program SMPIT Teuku Umar Meulaboh.



