PEMILIHAN Umum Kepala Daerah (Pilkada) 2017 di Aceh terbilang menarik. Hal ini dilatarbelakangi oleh enam mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang berebut kursi Aceh-1. Belum lagi pertaruhan gengsi politisi nasional melalui partai masing-masing di Bumi Iskandar Muda.
Seperti diketahui ada enam pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh yang ikut serta di Pilkada 2017 ini. Tiga diantara mereka diusung partai dan sisanya melaju dari jalur perseorangan. Mereka yang diusung partai salah satunya adalah Tarmizi A Karim dengan nomor urut 1. Dia melaju ke kursi Aceh 1 setelah mendapat kursi dari NasDem, Golkar, PPP, Hanura, dan PKPI. Tarmizi melaju di Pilkada Aceh bersama Machsalmina Ali yang menggantikan posisi Zaini Djalil sebagai calon Wakil Gubernur Aceh.
Konon kabarnya, Tarmizi A Karim diback-up penuh oleh Sofyan Dawood. Sosok satu ini dikenal sebagai mantan kombatan GAM di masa konflik Aceh berkecamuk. Apa Yan–demikian rekan sejawat memanggilnya–juga pernah menjabat sebagai Juru Bicara GAM Pusat saat perang tempo hari. Bagi warga Aceh, nama dan wajah Sofyan Dawood hampir saban hari terdengar, dibaca, dan terlihat di televisi ketika perang GAM lalu.
Di masa damai Aceh, Apa Yan kini memilih “berperang” melalui jalur politik. Jika pada Pilkada lalu dia “membonceng” Irwandi, kali ini dia membela Tarmizi Karim. Tak tanggung-tanggung, Apa Yan malah menjabat sebagai Ketua Tim Pemenangan untuk calon yang disebut-sebut sebagai “titipan pusat tersebut”.
Keberadaan Apa Yan bersama Tarmizi Karim tentunya tidak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi Apa Yan merupakan salah satu elit kombatan di masanya. Lahir di Panton Labu, 10 Oktober 1966 lalu, pria ini mahfum benar bagaimana strategi “perang” melalui media massa. Dia juga dikenal lihai menggiring opini publik yang adalah salah satu strategi untuk merangkul massa. Namun pertanyaannya adalah murnikah Sofyan Dawood bersekutu dengan calon yang diusung sejumlah partai nasional itu?
Selain Apa Yan, Pilkada 2017 kali ini juga diramaikan oleh Zakaria Saman. Pria ini dikenal sebagai Menteri Keuangan GAM masa perang Aceh.
Lahir di Keumala, Pidie, Aceh, 1 Januari 1946 lalu, Zakaria Saman dikenal sebagai politisi kocak di Aceh. Kenapa tidak? Saban memberikan komentar kepada media, lakapnya cenderung populis. Seperti halnya, “tanya sama Telkomsel” beberapa waktu lalu. Banyak publik Aceh yang terkadang memburu kalimat kocak Apa Karya–sapaan akrab Zakaria Saman–di media massa. Seakan-akan tanpa Apa Karya maka perjalanan politik Aceh terkesan lebih kaku.
Meskipun berseberangan jalur politik dengan rekan seperjuangannya di Pilkada 2017, Apa Karya malah sering terlihat akrab dengan rivalnya seperti Zaini Abdullah, Irwandi Yusuf, dan Muzakir Manaf. Setidaknya hal itu terlihat dari beberapa kali mereka berada di satu ruangan yang sama seperti saat tes kesehatan dan penarikan nomor urut beberapa waktu lalu.
Sebagai “kuda hitam” di pentas politik Aceh kali ini, Apa Karya memilih jalur independen untuk mencalonkan diri di Pilkada 2017. Dia berpasangan dengan T Alaidinsyah dan mendapat nomor urut 2, yang diibaratkannya sebagai dua kalimat syahadat.
Sosok elit GAM lainnya yang ikut serta di Pilkada 2017 kali ini adalah Sayed Mustafa Usab. Mendampingi Abdullah Puteh sebagai calon Wakil Gubernur Aceh, nama Sayed kurang familiar bagi penduduk pesisir timur Aceh. Namun berbeda halnya bagi warga pantai barat selatan Aceh, terutama untuk loyalis GAM.
Merujuk dari berbagai sumber, politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini pernah tercatat sebagai Koordinator GAM di Aceh Barat dan Aceh Selatan. Dia juga pernah menjadi anggota DPR RI menggantikan posisi Azwar Abubakar di masa pemerintahan SBY. Selain berasal dari GAM, Sayed Mustafa Usab kini juga diduga memiliki beberapa kolega dari Badan Intelijen Negara (BIN) dan TNI. Hal ini sangat memungkinkan karena pria kelahiran Kabu Tunong, Kecamatan Seunagan Timur, Nagan Raya, Aceh, pada 4 Juli 1962 itu juga pernah berada di Komisi I DPR RI, yang mitra kerjanya adalah dua institusi negara tersebut.
Sayed Mustafa Usab pernah menjadi koordinator tim pemenangan Zaini Abdullah sebelum pendaftaran cagub Aceh dimulai. Namun dia berbalik arah membela Abdullah Puteh, sang mantan Gubernur Aceh, yang kemudian “dipinang” menjadi wakilnya.
Tokoh sentral GAM lainnya yang ikut serta menabuh “genderang perang” di Pilkada 2017 ini adalah Zaini Abdullah. Mantan aktivis mahasiswa kedokteran yang bergabung dengan GAM bersama Hasan di Tiro ini merupakan petahana.
Sama halnya dengan Apa Karya dan Abdullah Puteh, pria yang pernah menjadi warga negara Swedia ini juga memilih jalur independen untuk maju di pesta demokrasi Aceh. Dia merangkul Nasaruddin sebagai wakil dan diduga mendapat dukungan dari sebagian eks-Tripoli di pemilihan kali ini.
Lahir di Pidie, 24 April 1940, menjadikan mantan Menteri Kesehatan GAM ini sebagai kandidat Gubernur Aceh tertua di Pilkada 2017. Kendati banyak yang meragukan kemampuannya untuk memimpin Aceh kedua kalinya, tetapi Zaini masih terlihat semangat berpolitik. Kondisi kesehatannya di usia uzur bahkan sempat terganggu beberapa hari lalu, setelah tes kesehatan Pilkada 2017 dilakukan. Dia sempat dirawat di salah satu rumah sakit, di Jakarta, karena menderita penyakit infeksi saluran pernafasan dan nyeri lutut. Suaranya pun sudah kurang terdengar saat berbicara di podium. Pun demikian, Nasaruddin sebagai wakilnya, yang usianya jauh lebih muda diduga mampu menutup hal itu. Zaini dan Nasaruddin yang mengusung jargon AZAN kali ini mendapat nomor urut 4 sebagai peserta Pilkada.
Elit GAM lainnya yang tercatat sebagai peserta Pilkada kali ini adalah Muzakir Manaf. Pria yang dikenal dengan sebutan Mualem–asal kata Mualimin atau pelatih–ini adalah mantan Panglima GAM yang paling diburu oleh aparat keamanan masa Aceh perang dulu. Sebagai anak didik langsung Hasan Tiro, Mualem yakin rakyat Aceh masih bersamanya di Pilkada 2017 ini.
Berpasangan dengan TA Khalid, eks-Libya ini diusung Partai Aceh dan Gerindra di kancah politik tahun ini. Mereka juga mendapat dukungan dari sejumlah partai nasional lainnya seperti Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kubu Djan Faridz, Partai Amanat Nasional (PAN) Aceh, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), PKPI dan Partai Gerindra. Di sisi lain, Mualem juga mendapat dukungan politik dari unsur GAM di bawah komando Komite Peralihan Aceh (KPA) yang tersebar hingga ke level gampong, di seluruh Aceh.
Sebagai mantan panglima, Mualem menjadi salah satu sosok potensial yang diprediksi mampu meraup suara terbanyak di Aceh nanti. Apalagi modal politik yang dimilikinya cukup besar: 29 kursi di DPRA dan mayoritas di parlemen hampir seluruh tingkat kabupaten kota.
Nama lainnya yang identik dengan GAM adalah Irwandi Yusuf. Maju bersama Nova Iriansyah, pasangan ini mengantungi nomor urut 6 di Pilkada 2017.
Irwandi merupakan mantan Gubernur Aceh yang dikenal lewat program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA). Dia juga mantan propaganda GAM masa perang Aceh lalu. Psy war adalah rutinitas yang dilakoninya saat konflik. Dan hal itu pula yang diterapkannya saat melaju di tiga Pilkada Aceh, termasuk periode ini.
Tidak sedikit mantan GAM yang mendukung Irwandi. Sebut saja diantaranya seperti Muchsalmina (tokoh GAM Aceh Besar), Munawarliza Zainal (sipil GAM Sabang), beberapa tokoh GAM di Bireuen, Ridwan Abubakar alias Nek Tu di Aceh Timur dan beberapa mantan kombatan lainnya di Aceh. Dia juga mendapat dukungan dari Nur Djuli, tokoh GAM yang terlibat di perdamaian Helsinki pada 15 Agustus 2005 lalu.
Dengan hadirnya 6 mantan kombatan GAM yang tercatat sebagai calon kepala daerah dan Ring 1 di Pilkada 2017 ini, tentunya membuat suara pendukung menjadi terpecah. Namun inilah politik dan pesta demokrasi sesungguhnya. Siapapun bisa melaju, asai bek riyoh-riyoh dan peusak hop ateuh rakyat.
Pertanyaannya adalah apakah benar mantan kombatan GAM kali ini saling “berperang” antar sesama, atau ini hanya sebatas sandiwara politik anak didik Hasan Tiro? Mungkin saja. Namun, bisa saja ini ada hidden agenda para players di balik layar.[]







