Dalam perjalanan Israk Mikraj banyak peristiwa yang sempat dialami dan dilihat Baginda Nabi Muhammad saw. Sebagaimana kita ketahui, Allah swt., mengutus Rasulullah dalam wisata rohani ke Sidratul Muntaha untuk menerima sebuah amanah yang akan diwajibkan kepada umat Nabi Muhammad.
Namun, kita pun menjadi bertanya, mengapa Allah meminta Rasulullah untuk melakukan Israk Mikraj sampai ke Sidratul Muntaha di langit? Kenapa tidak di bumi saja? Ternyata ada pertengkaran antara langit dengan bumi sehingga terjadinya Israk Mikraj.
Telah diceritakan bahwa sebelum terjadinya Israk dan Mikraj, bumi merasa bangga atas langit. Berkata bumi kepada langit, “Hai langit, aku lebih baik dari kamu karena Allah swt., telah menghiaskan aku dengan berbagai-bagai negara, beberapa laut, sungai-sungai, tanam-anaman, beberapa gunung dan lain-lain.”
Langit pun menjawab “Hai bumi, aku juga lebih baik dari kamu karena matahari, bulan, bintang-bintang, beberapa falak, buruj, 'arasy, kursi dan syurga ada padaku.”
Berkata pula bumi, “Hai langit, ditempatku ada rumah yang dikunjungi dan untuk bertawaf para nabi, para utusan dan arwah para wali dan solihin (orang-orang yang baik).”
Bumi berkata lagi, “Hai langit, sesungguhnya pemimpin para nabi dan utusan bahkan sebagai penutup para nabi dan kekasih Allah seru sekalian alam, seutama-utamanya segala yang wujud serta kepadanya penghormatan yang paling sempurna itu tinggal di tempatku. Dan dia menjalankan syari'atnya juga di tempatku.”
Langit tidak dapat berkata apa-apa, apabila bumi berkata demikian. Langit mendiamkan diri dan dia menghadap Allah swt., dengan berkata, “Ya Allah, Engkau telah mengabulkan permintaan orang yang tertimpa bahaya, apabila mereka berdoa kepada Engkau. Aku tidak dapat menjawab soalan bumi, oleh itu aku minta kepada-Mu Ya Allah supaya kekasih-Mu yakni Muhammad dinaikkan kepadaku (langit) sehingga aku menjadi mulia dengan kebagusannya dan berbangga dengannya kelak.”
Lalu Allah swt., mengabulkan permintaan langit. Allah memberi wahyu kepada Jibril pada malam tanggal 27 Rajab, “Janganlah engkau (Jibril) bertasbih pada malam ini dan engkau 'Izrail, jangan engkau mencabut nyawa pada malam ini.
Jibril bertanya, “Ya Allah, apakah kiamat telah sampai?”
Allah swt., berfirman, maksudnya, “Tidak, wahai Jibril. Tetapi pergilah engkau ke surga dan ambillah buraq dan terus pergi kepada Muhammad dengan buraq itu.”
Kemudian Jibril pergi ke surga dan dia melihat 40.000 buraq sedang bersenang-senang di taman surga dan di wajah masing-masing terdapat nama Muhammad. Di antara 40.000 buraq itu, Jibril terpandang pada seekor buraq yang sedang menangis bercucuran air matanya. Jibril menghampiri buraq itu, lalu bertanya, “Mengapa engkau menangis, ya buraq?”
Berkata buraq, “Ya Jibril, sesungguhnya aku telah mendengar nama Muhammad sejak 40 tahun, maka pemilik nama itu telah tertanam dalam hatiku dan aku sesudah itu menjadi rindu kepadanya dan aku tidak mau makan dan minum lagi. Aku laksana dibakar oleh api kerinduan.”
Berkata Jibril, “Aku akan menyampaikan engkau kepada orang yang engkau rindukan itu.”
Kemudian Jibril memakaikan pelana dan kekang kepada buraq itu dan ditunggangi oleh Baginda Nabi Muhammad saw. Buraq yang diceritakan inilah yang membawa Rasulullah dalam perjalanan Israk dan Mikraj.[]
Sumber: dinulislamnews.com




