Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, Dekan dan Dosen Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe

Di Indonesia peristiwa isra’ mi’raj selalu diperingati pada 27 Rajab, yang tahun ini bertepatan dengan 8 Februari. Sebenarnya para ulama tidak satu kata soal kapan pastinya peristiwa isra’ mi’raj terjadi. Tidak ada kesepakatan di antara mereka bahwa peristiwa isra’ itu jatuhnya pada bulan Rajab. Sehingga ada di antara mereka mengatakan peristiwa ini terjadi pada malam 27 bulan Rabi’ul Awwal. Ini pendapat Ibnu al-Atsir, Imam Nawawi dan lain-lain. Ada pula yang mengatakan peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadan, sebagaimana ada yang mengatakan pada bulan Syawwal. Mereka juga berselisih soal harinya, ada yang berpendapat isra’ dan mi’raj terjadi pada hari Jumat, ada yang mengatakan pada hari Sabtu, dan ada yang mengatakan terjadi pada hari Senin sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Dahiyyat al-Kalbi. Hari Senin itu menurutnya bertepatan dengan hari lahirnya nabi, hari beliau diangkat menjadi rasulullah, hari hijrahnya dan hari wafatnya.

Perselisihan tentang kapan peristiwa isra’ dan mi’raj terjadi tidak berkisar soal hari dan bulan, tetapi juga tahun. Sebagian ulama mengatakan kejadian isra’ dan mi’raj terjadi setahun sebelum nabi hijrah ke Madinah, atau tahun 12 kenabian. Sebagian lainnya berpendapat sebulan sebelum hijrah, bukan setahun. Namun ada juga yang mengatakan 16 bulan sebelum hijrah, sebagaimana ada yang meyakini setahun sebelum hijrah. Di samping itu semua masih ada ulama yang mengatakan 3 tahun sebelum hijrah, begitu juga ada pendapat 5 tahun dan 6 tahun sebelum hijrah. Namun mereka semua sepakat bahwa isra’ dan mi’raj terjadi sebelum hijrah nabi ke Madinah. Mereka juga menyepakati bahwa peristiwa ini hanya terjadi sekali.

Keragaman pendapat tentang kapan peristiwa isra’ dan mi’raj terjadi bukanlah suatu yang aneh jika melihat sejarah awal umat Islam. Karena pada hakikatnya ada dua kondisi berbeda yang melatarbelakangi sejarah mereka saat itu, fase Mekkah dan fase Madinah. Fase Mekkah adalah masa di mana nabi membentuk karakter umat Islam, atau dikenal dengan masa pendidikan dasar (awal). Saat itu komunitas muslim tidak memiliki kekuatan apapun kecuali Islam itu sendiri. Mereka tidak memiliki wilayah kekuasaan dan pemerintahan sebagaimana nanti di Madinah, bahkan kehidupan mereka dipenuhi dengan berbagai intimidasi dan teror dari para penguasa Mekkah yang endingnya mereka terpaksa keluar dan terusir dari lembah Mekkah. Kehidupan yang dikejar-kejar oleh ancaman, pemboikotan dan siksaan tentunya membuat kaum muslimin saat itu tidak begitu mementingkan soal detail peristiwa yang terjadi di tengah-tengah mereka. fokus mereka saat itu justru tertuju pada bagaimana menyelematkan jiwa dan agama mereka.

Faktor lain barangkali karena karakteristik masyarakat Mekkah yang jauh dari sifat “tamaddun” atau berbudaya yang itu secara tidak disadari terwariskan kepada kaum muslimin awal. Sehingga andaipun mereka memiliki catatan tentang peristiwa tertentu, biasanya tidak detail. Mereka mencatat peristiwa penyerangan tentara gajah oleh Abrahah ke Mekkah, namun mereka hanya menyebutnya “tahun gajah”, tanpa detail tahun, bulan dan harinya. Dalam masyarakat yang budayanya rendah hal itu dipandang biasa. Orang tua kita yang sudah sepuh juga tidak punya catatan pasti tentang kapan ia lahir. Ia hanya mengatakan, “waktu Jepang masuk ke Aceh dulu saya sudah mulai ikut ayah turun ke sawah”. Artinya umurnya saat itu sudah sekitar enam atau delapan tahun. Untuk masyarakat seperti ini turun ke sawah dan menghasilkan gabah yang cukup untuk menghidupi keluarganya jauh lebih penting dari mencatat tanggal lahir dan pergi ke sekolah.

Isra’ Mi’raj dan Bisyarah Kemenangan

Terlepas dari itu semua, satu hal yang hampir bisa dipastikan bahwa peristiwa isra’ mi’raj terjadi pasca-wafatnya Abu Thalib dan Khadijah Ummul Mukminin. Tahun itu dikenal degan ‘amul huzni’, atau tahun duka cita. Pascadua peristiwa ini kehidupan nabi di Mekkah tidak lagi berjalan seperti dulu saat dua orang yang sangat dicintainya masih hidup. Jika dulu hanya kaum muslimin yang mendapat kekerasan fisik, kini nabipun mengalami hal yang sama. Sehingga ada ungkapan mengatakan, “pergi pagi bajunya putih bersih, pulang sore berubah berwarna hitam dan penuh kotoran”. Semua pintu dakwah tertutup untuknya. Sehingga membuatnya berpikir untuk mencoba peruntungan di luar kota Mekkah. Thaif menjadi pilihan satu-satunya saat itu. Namun sesampainya di sana, ia malah diusir dan dilempari hingga berdarah-darah. Penolakan yang dilakukan oleh Ibnu ‘Abdi Yalail ibn ‘Abdi Kulal dan kawan-kawannya serta memprovokasi warga Thaif untuk mengusir nabi menjadi puncak intimidasi fisik yang dirasakan olehnya. Berawal dari peristiwa ini dan sederet peristiwa lainnya yang tak terhitung akhirnya Allah memberangkatkan nabinya ke Masjid al-Aqsa (isra’) menuju Sidratul Muntaha (mi’raj).

Peristiwa hebat ini diabadikan dalam surah al-Isra’, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”, (al-Isra’: 1). Isra’ itu sendiri bermakna perjalanan malam hari. Di mana saat itu nabi diberangkatkan dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa di malam hari.

Namun ada yang mengatakan ketika nabi kembali dari Thaif, beliau mengunjungi sepupunya Ummu Hani (kakaknya Ali bin Abi Thalib). Dari rumah itulah pada malam harinya nabi diberangkatkan ke Masjid al-Aqsa. Dari sana nabi dinaikkan ke langit hingga ke Sidratul Muntaha. Perjalanan naik ke langit ini dikenal dengan ‘mi’raj’. Peristiwa inipun terekam dengan baik dalam al-Quran sebagaimana firman Allah, “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal (jannatul ma’wa). (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya”, (al-Najm: 13 – 16).

Peristiwa isra’ dan mi’raj yang dilatarbelakangi oleh ragam peristiwa memilukan dalam sejarah dakwah nabi di Mekkah menjadikannya semacam hadiah dari Allah Swt. Sebagaimana bunyi sebuah ungkapan, “pahala takkan ada kecuali setelah adanya amal”. Begitulah kemenangan takkan datang melainkan setelah perjuangan, ujian dan cobaan. Namun jika dikatakan kemenangan, isra’ dan mi’raj lebih tepat sebagai bisyarah atau berita gembira bahwa nabi akan mendapatkan kemenangan. Dakwahnya akan diterima oleh manusia, bukan hanya yang selama ini menolaknya tetapi manusia seluruhnya, di semua penjuru bumi. Islam akan menjadi agama besar dan peradaban hebat. Itu semua terbukti dengan hijrahnya nabi ke Madinah dan penaklukan kota Mekkah pada tahun 8 Hijriah. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)”, (al-Fath: 1 – 3). Dalam ayat lain Allah berfirman, “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat”, (al-Nasr: 1 – 3).

Isra’ Mi’raj dan Kekuatan Shalat

Benar sekali bahwa Islam kemudian mendapatkan kemenangannya. Bukan hanya di masa nabi, tetapi juga dilanjutkan pada masa khalifahnya, Abu Bakar, Umar dan lain-lain hingga ke dinasti-dinasti pascasahabat dan tabi’in. Akan tetapi menang saja tidak cukup, menjadi agama besar dan peradaban besar saja tidak cukup. Lebih penting dari itu semua adalah bagaimana mempertahankan kemenangan dan kejayaan. Benar bahwa Islam telah menang dan menjadi the global power, lalu di mana itu semua hari ini. Sampai saat tulisan ini ditulis, di Gaza, kaum muslimin Palestina masih mendapat gempuran dari tentara Israel. Sementara umat Islam yang jumlahnya lebih dari satu miliar jiwa (1,98 miliar) hanya bisa berdoa dan mengirimkan bantuan alakadar, tanpa bisa berbuat lebih. Mereka menjadi umat yang tidak berdaya di hadapan bangsa Yahudi yang jumlah mereka tak sampai 18 juta jiwa.

Inilah yang digambarkan dalam sebuah hadis nabi, “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya. Maka seseorang bertanya, “apakah karena sedikitnya jumlah kita?”, Rasulullah menjawab, “bahkan kalian banyak, akan tetapi kalian seperti buih mengapung”, dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian, sebagai gantinya Allah menimpakan dalam hati kalian penyakit al-Wahn. Seseorang bertanya, ”wahai Rasulullah, apakah al-Wahn itu?” Nabi menjawab, ”cinta dunia dan membenci kematian”, (HR: Abu daud).

Penyakit cinta dunia (materialistik) yang menggerogoti umat Islam salah satunya karena jauhnya mereka dari ajaran shalat dalam makna yang sebenar-benarnya. Perhatikan firman Allah berikut ini, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya, (al-Baqarah: 45 – 46). Shalat adalah pakaiannya orang-orang yang dekat dengan Allah, dekat dengan akhirat dan pastinya jauh dari sifat tamak terhadap dunia (materialistik).

Kekuatan umat Islam salah satunya ada pada shalat. Kekuatan untuk menang dan kekuatan mempertahankan kemenangan. Banyak orang mampu menjadi pemenang, begitu juga dengan ragam bangsa di dunia ini. Mereka pernah menjadi pemenang, namun berapa banyak di antara mereka yang mampu mempertahankan kemenangannya. Inilah rahasianya mengapa sejak dari awal Islam, melalui surah al-Muzammil Allah perintahkan nabi bangun malam dan memperbanyak shalat, karena ada kerja berat yang akan mengiringi perjalanan hidupnya, dan itu hanya akan mudah dan ringan jika dibarengi dengan shalat. Allah berfirman, “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah al-Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat”, (al-Muzammil: 1 – 5).

Itulah arti dari perjalanan isra’ dan mi’raj nabi saw. Allah memperjalankan nabi-Nya untuk menerima shalat lima waktu. Sebuah isyarat bahwa hanya dengan shalat umat Islam akan mendapatkan kemenangan atas orang-orang yang selama ini memusuhi mereka. Namun kembali pada inti ajaran shalat, bahwa shalat tidak hanya sebagai sumber kekuatan yang memberikan kekuatan spritual dan fisik sekaligus, tetapi shalat juga mengajarkan nilai-nilai yang dengannya umat Islam mampu mempertahankan Islam sebagai sebuah agama, juga sebagai sebuah peradaban. Bukankah Allah berfirman, “dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar”, (al-Ankabut: 45).

Sebuah peradaban atau bangsa akan bertahan jika nilai-nilai dan akhlak masih bersemai dalam amalan keseharian masyarakatnya. Namun sebaliknya peradaban mereka akan hancur jika akhlak tak lagi menjadi tata nilai dan prinsip hidup. Begitulah Islam akan bernilai dan dihormati oleh bangsa manapun di dunia ini jika umatnya masih loyal pada nilai-nilai, yang itu semua tergantung pada sejauh mana konsistensi mereka mendirikan shalat dalam makna yang sebenar-benarnya. Yaitu mengamalkan nilai dan ajaran shalat. Namun jika shalat dilakukan sebagai sebuah ritual, maka Islam hanya menjadi sebuah simbol tanpa makna. Jadilah umat Islam seperti disebutkan dalam hadis di atas, “makanan yang diperebutkan”. Wallahua’lam.[]