Oleh Miralda Salsyabillah*
SUATU hari di sebuah desa aku bertemu dengannya. Dia yang baru saja kulihat, serasa hatiku ini ingin memiliki dan dekat dengannya. Hari itu aku langsung menghampirinya dengan rasa gugup yang kubawa. Tak tahu kenapa mata ini selalu mengarah kepadanya, karena bagiku dialah orang yang tepat untuk kujadikan seorang teman. Langsung saja kusapa dia dengan sapaan yang lembut. Baru kali itu kusadari kalau aku bisa berkata dengan suara yang lembut dan volumenya agak mengecil.
“Hai,” sapaku.
“Ya, ada apa, ya?” jawabnya.
“Boleh kenalan, gak?” kataku lagi.
”Boleh,” ucapnya mengabulkan permintaanku.
“Perkenalkan namaku Syila.”
“Hai Syila, dan perkenalkan namaku Sani,” dia balas menjawab dan melanjutkan, “senang berkenalan denganmu, dan kuharap pertemuan kita ini tidak berakhir di perkenalan saja,” ucapnya.
“Dan kuharap juga begitu,” kataku lagi.
Hari itu kami berharap agar pertemanan itu tidak berakhir sebatas perkenalan saja, tapi apa boleh buat, ternyata harapan kami tidak terwujud. Esoknya ibuku bertemu dengan seseorang yang tidak kukenal.
“Hai, ini Rina, kan?” tanya ibuku.
“Ha… ini Mira, kan? waduh sudah lama aku tak berjumpa denganmu, perkenalkan ini suamiku, Bagus,” sapa seorang ibu yang tidak kukenali. Saat itu ibu itu memperkenalkan suaminya kepada ibuku dan tiba-tiba ayahku datang dari kejauhan.
“Hai Bagus, sudah lupakah kau denganku? aku Brams sahabatmu di waktu SMA,” sapa ayahku kepada bapak tersebut.
“Hai Brams sudah lama aku tak berjumpa denganmu,” sapanya kembali.
“Kenalkan ini istriku,” kata ayah.
“Apa! Ini istrimu? tak disangka ternyata istrimu dan istriku sudah berteman lama,” kata bapak tersebut yang terlihat terkejut. “Apa ini anakmu?” tanyanya lagi pada ayah.
Ayah hanya mengangguk yang berarti “iya”.
“Wah, cantik sekali. Dan ternyata kita sama-sama memiliki anak perempuan yang cantik,” ujar pria bernama Bagus itu.
“Wah, benarkah? ternyata kita tidak ada jauh bedanya dari SMA ya, ternyata kesamaan tidak melepaskan kita,” ucap ayahku.
Pertemuan itu berakhir pada pukul 20.14 WIB, sebab pasangan suami istri itu harus buru-buru pulang karena anak perempuannya yang ditinggal sendiri di rumah.
Pada malam berikutnya suara bel berbunyi di rumah kami. Segera aku berlari kecil untuk melihat siapa yang datang. Ternyata bapak dan ibu yang malam sebelumnya kami jumpai.
“Hai cantik, di mana ayahmu?” tanya Pak Bagus.
“Ayah ada di dalam, Pak, silakan masuk,” jawabku.
Mereka lantas masuk ke dalam rumah. Karena asyik memandang ke luar, tak kusadari bila ayah dan ibu telah berbincang dengan Pak Bagus dan istrinya. Sementara itu, mataku hanya tertuju pada sesosok wanita yang sedang duduk di halaman. Aku menatapnya aneh karena aku tak asing lagi melihat sosok itu. Aku mencoba mengingat dan mengingat lagi, ternyata dia adalah Sani. Aku berlari kencang menghampirinya.
“Hai Sani, apakah kamu masih ingat denganku?”
“Hai Syila, akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi. Ternyata takdir tidak menjauhkan kita,” jawabnya sambil memelukku dengan erat.
“Ayo masuk ke dalam rumahku, biar kuperkenalkan kamu dengan ayah dan ibuku,” pintaku kepadanya.
Aku langsung menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam rumah untuk kuperkenalkan kepada ayah dan ibu.
“Ayah, ibu, kenalkan ini temanku, Sani namanya,” kataku.
Namun, apa yang kusaksikan. Aku hanya mendapatkan tawaan yang diberikan oleh Pak Bagus dan Bu Rina.
“Hai Bagus, kenapa kamu menertawakan anakku, emang apa yang lucu darinya?” tanya ayahku heran.
“Sudah kubilang, kita memang dari dulu tidak lepas dari kesamaan,” jawab Pak Bagus yang membuat ayahku semakin terheran-heran.
“Maksudnya?” ayahku balik bertanya.
“Lihatlah, yang diperkenalkan anakmu itu kepada kalian itu adalah anakku,” katanya menjelaskan sambil tertawa dan bertepuk tangan bersama istrinya.
Aku sangat terkejut. Bukan ayah dan ibu kami saja yang berteman, melainkan kami juga. Sani pun tersenyum kepadaku saat ayahnya mengatakan tentang dirinya.
Keesokan harinya kami dan keluarga pergi ke tempat wisata yang pernah dikunjungi oleh ayahku dan ayahnya Sani. Kami sangat bahagia, ternyata perkenalan kami tidak hanya berakhir pada hari itu saja. Aku menyesal karena sempat berpikir seperti itu. Namun, hari ini bukan untuk menyesali perkataanku karena hari ini adalah milikku, miliknya Sani, dan tentu saja keluarga kami.
Pertemananku dengan Sani sudah selama sembilan tahun. Sekarang usia kami sudah sama-sama 19 tahun. Di usiaku yang ke-19 tahun ini, begitu juga dengan Sani, baru aku berani mengatakan kepadanya agar dia tidak meninggalkanku.
“Sani, kamu mau gak berjanji sama aku, aku ingin kamu jangan pergi dariku. Cuma kamu yang mau berteman denganku. Aku sayang banget dengan kamu,” ucapku.
Tapi apa yang kudapatkan, aku hanya mendapatkan seberkas senyuman dari Sani. Aku tidak mengerti apa maksud dari senyuman itu. Aku pun terdiam dan agak kesal atas sikapnya itu.
Selang beberapa hari, aku terkejut atas apa yang terjadi pada Sani. Aku menyesal karena sebelumnya tidak mengetahui apa maksud dari senyuman Sani untukku. Baru kusadari kalau dia mengidap penyakit kanker otak yang selama ini tidak kuketahui. Sani tidak pernah menceritakannya tentang apa yang dia alami. Saat orang tuanya mengabari ke rumahku tentang dirinya, langsung aku tarik tangan ayah dan ibu untuk segera melihatnya yang sekarang berada di rumah sakit.
Sesampai di sana aku langsung berlari dan menanyakan kepada petugas rumah sakit di mana ruangan temanku. Segera petugas rumah sakit memberi tahukan kepadaku, dan tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepada petugas tersebut. Aku terburu-buru lari menuju ke ruangannya yang telah ditunjukkan oleh petugas. Saat aku membuka pintu ruangan, aku kaget saat melihat kondisi Sani. Banyak sekali selang yang dipasang di tubuhnya yang tidak kuketahui kegunaannya.
Aku langsung menghampirinya. Namun, apalah daya. Sani tidak bisa melihatku yang sekarang berada di sisinya. Dalam hati aku mencaci diriku sendiri, mengapa aku tidak mencari tahu apa maksudnya waktu itu sehingga tidak bisa berjanji padaku. Sekarang aku mengetahui jawabannya. Ya, karena dia tahu, kalau tidak lama lagi Sani akan meninggalkanku sendiri.
Keesokan harinya aku meminta izin kepada ayah dan ibu agar aku tetap di rumah sakit untuk menjaga Sani. Alhamdulillah, ayah dan ibu memberi izin. Segera aku bergegas membereskan pakaianku dan langsung berangkat bersama ayah.
Sampai di sana, aku melihat ayah dan ibu Sani. Aku melihat mereka menangis seperti ada sesuatu yang terjadi pada Sani. Aku ingin bertanya, tapi susah untuk melakukannya pada saat kondisi seperti ini. Aku bingung apa yang terjadi dengan temanku itu. Langsung aku memasuki ruangannya tanpa meminta izin. Aku tahu kalau perbuatanku ini tidak sopan, tapi mau gimana lagi karena aku sangat penasaran apa yang sedang terjadi. Setiba di dalam ruangan, aku melihat tubuh Sani telah ditutupi dengan kain yang tipis. Menyaksikan itu aku langsung berpikir yang tak seharusnya ada di pikiran.
Refleks aku menggeleng-geleng. Kubuka kain yang menutupi Sani. Wajahnya tak seperti biasa, dia teramat pucat dan dingin. Aku langsung memeluknya erat sambil menangis sejadi-jadinya. Tak lama kemudian ayah, ibu, dan orang tua Sani menghampiriku. Mereka tak tega melihatku.
“Bu, tak mungkin Sani pergi, Bu. Dia sangat sayang kepadaku, dia takkan bisa pergi tanpa aku, Bu,” kataku sesenggukan.
“Sudahlah, Nak, Sani sudah tenang di sana. Sani mendapatkan tempat yang selayaknya kok,” ucap ibu untuk menguatkan aku.
Keesokan harinya setelah Sani dikebumikan kami sekeluarga pamit pulang. Sesampai di rumah aku masih sedih dan seperti tak terima dengan kenyataan ini, tapi terus aku membaca surah Al-Ikhlas.
Aku selalu mengirimkan surat untuk Sani melalui Sang Mahakuasa, dan tak ada hariku tanpa pernah mengunjungi kuburan Sani. Aku berharap agar Sani diletakkan di tempat orang-orang yang bertakwa. Begitu doa yang selalu kuucapkan. Selamat jalan Sani.[]
*Siswa Kelas X MA Dayah Baitul Arqam, Sibreh, Aceh Besar.







