LHOKSEUMAWE – Center for Information of Samudra Pasai Heritage (Cisah) menggelar samadiyah dan doa bersama di Kompleks Sultan Al-Malik Ash-Shalih, di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, 15 Ramadan 1441 H/Jumat, 8 Mei 2020. Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati Haul ke-745 tahun wafatnya Sultan Al-Malik Ash-Shalih, sering disebut Sultan Malikussaleh, pendiri Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara.

Acara itu dilaksanakan setelah shalat Ashar berjamaah di Kompleks Makam Sultan Malikussaleh hingga tiba waktu berbuka puasa. Samadiyah dipimpin Tgk. Usman (Ketua Majelis Taklim di Kecamatan Samudera), doa bersama dipimpin Abi Muhibbuddin (Pimpinan Dayah Malikussaleh di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera), dilanjutkan tausyiah oleh Abah Idris (pimpinan dayah di Syamtalira Bayu, Aceh Utara).

Kegiatan tersebut dihadiri puluhan anggota dan relawan Cisah dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe, termasuk perwakilan Pelajar Peduli Sejarah (Pelisa) dari SMAN 5 dan SMA Modal Bangsa (Mosa) Arun Lhokseumawe, yang memakai masker berlogo Cisah.

Usai samadiyah dan doa bersama, dilanjutkan buka puasa bersama di lokasi itu dan shalat Magrib berjamaah. Anggota/relawan Cisah dan perwakilan Pelisa kemudian menikmati kenduri berupa nasi bungkus di Sekretariat Cisah di Buket Rata, Lhokseumawe. Turut hadir Muhammad Yusuf Abdullah akrab disapa Panglima Moja (mantan Panglima Komando Aceh Merdeka Wilayah Timur), Fauzi Harun (Camat Nibong) dan Tgk. Andi Saputra (Ketua Kantor Urusan Agama/KUA Kecamatan Nbong, Aceh Utara), yang secara pribadi selalu aktif dalam kegiatan Cisah.

“Rencana awal, setelah samadiyah dan doa bersama, kita juga akan membagikan takjil kepada masyarakat yang melintas di depan gerbang Kompleks Makam Sultan Malikussaleh. Namun, karena hujan deras, 50 bungkus takjil itu kita bagikan dengan mengantar ke rumah-rumah warga setempat,” ujar Ketua Cisah, Abdul Hamid akrab disapa Abel Pasai.

Menurut Abel Pasai, kenduri termasuk takjil dan masker itu bersumber dari uang hasil meuripee (infak secara patungan) para anggota/relawan Cisah dan Pelisa maupun berbagai kalangan lainnya yang mendukung kegiatan Cisah.   

Wakil Ketua Cisah, Sukarna Putra, mengatakan peringatan Haul Sultan Malikussaleh merupakan agenda rutin Cisah bertujuan membuka kembali wawasan ataupun ilmu pengetahuan bagi masyarakat Aceh terutama generasi muda tentang sosok pendiri Kesultanan Samudra Pasai.

“Apalagi sifat yang spesifik sebagaimana yang terpahat dalam inskripsi pada batu nisan beliau, yang cocok untuk kita implementasikan pada bulan yang penuh berkah ini. Di mana ketakwaan adalah puncak dari ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadan ini. Sifat pertama Sultan Malikussaleh yang tertulis pada batu nisan beliau adalah At Taqi, yaitu seorang yang bertakwa,” ujarnya.

Adapun terjemahan selengkapnya dari bunyi inskripsi pada batu nisan sebelah kaki (selatan) makam Sultan Malikussaleh adalah, “Inilah kubur orang yang dirahmati lagi diampuni, orang yang bertakwa (takut kepada murka dan azab Allah) lagi pemberi nasihat, orang yang berasal dari keluarga terhormat dan dari silsilah keturunan terkenal lagi pemurah (penyantun), orang yang kuat beribadah (‘abid) lagi pembebas, orang yang digelar [dengan] Sultan [Al-]Malik Ash-Shalih, yang berpindah [ke rahmatullah] dari bulan Ramadhan tahun 696 dari hijrah Nabi [saw.]. Semoga Allah menyiramkan [rahmat-Nya] ke atas pusaranya serta menjadikan surga tempat kediamannya. Tiada tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah)”.

Menurut Sukarna Putra, kepribadian sosok Sultan Malikussaleh itu perlu diketahui generasi sekarang. “Minimal masyarakat ataupun generasi kita harus mengetahui jarak antara dia sekarang dengan pendahulunya, yaitu Sultan Malikussaleh seberapa jauhnya. Sekarang kita memperingati Haul atau kemangkatan Sultan Malikusssaleh yang ke-745 tahun,” tuturnya.

Sukarna Putra juga menjelaskan, untuk merekonstruksi sejarah itu kita sangat membutuhkan bukti tangible atau artefak yang masih tersebar sangat banyak di Aceh Utara, terutama kawasan inti Kesultanan Samudra Pasai, yang sekarang di Kecamatan Samudera.

“Kita lihat masih banyak artefak yang masih terbengkalai, jauh dari perhatian masyarakat sekitar yang mungkin  pemahamannya masih awam terhadap kepentingan rekonstruksi sejarah untuk ke depannya. Kemudian kepedulian pemerintah juga sangat kita tekankan di sini untuk menyelamatkan banyak artefak. Benda-benda bersejarah itu juga perlu diregistrasi oleh pihak terkait di tingkat nasional maupun pemerintah daerah. Apalagi banyak pasal dalam undang-undang yang mengamanahkan untuk melestarikan peninggalan sejarah, tidak boleh merusak atau mengusik keberadaannya,” ujar Sukarna Putra.[](*)