Karya: Taufik Sentana*

Cinta telah menjadi bahasa semesta
Si filsuf dan si gila telah berusaha
Menuju gerbangnya, 
Memasuki taman tamannya
Dan bercengkerama dengan tangkai tangkai bunga
Sebagian melupakan ranting ranting kering
Dan tanah yang sabar.
Asyik dalam makna sendiri.

Seluruh pembawa risalah
Telah menawarkan cinta 
Yang tangkainya menjuntai ke Arsy
Dari akar Rahman dan Rahim,
Yang menjadi pintu 
Dari jelajah sikap sehari hari.

Setiap kita ingin cinta yang berbalas
Cinta yang membuka tirainya 
Dan membiarkan kita bergerak bebas
Ke puncak asa yang Tinggi.
Saat menempuh dan melampaui jalannya
Kita selalu membedakan nafsu
Antara kesenangan dan alpa.

Perlananan cinta selalu 
Ditempuh dengan kesusahan dan kesempitan
Walau maknanya tetap sempurna
Dalam ridha, rela dan thuma'ninah.[]

*Penyuka prosa sufistik

Dalam  “Password Kebahagiaan”.