Untuk menghindari gempuran pasukan pejuang Aceh, Pemerintah Kolonial Belanda membangun benteng-benteng sebagai pusat lini konsentrasi. Pasukan Belanda tidak dibenarkan keluar dalam benteng yang tertutup. Mereka hanya menunggu dan terus tetap bertahan di sana.

Lini konsentrasi diciptakan oleh Mayor Jenderal AWP Weizel. Ia membuat serangkaian benteng di wilayah Aceh Besar yang dihubungkan dengan lori. Namun sistem ini tidak dapat memaksa pasukan pejuang Aceh untuk menyerah, bahkan sebaliknya terus menyerang.

Akibatnya, Belanda kehabisan banyak anggaran hanya untuk membangun benteng-benteng sebagai tempat konsentrasi pasukan. Selain itu, moral pasukan Belanda yang dikurung dalam benteng merosot, mencekam dalam suasana tegang dalam benteng. Kunjung mengunjung antar benteng di antara para istri opsir dan perwira Belanda harus dilakukan dengan menggunakan lori dengan pengawalan pasukan khusus.

Dana yang dihabiskan untuk membangun benteng lini konsentrasi dan rel lori penghubung antar benteng juga tidak sedikit. Belanda juga harus membentuk brigade sepeda lori yang mondar-mandir antar benteng. Hal ini bisa dibaca dalam buku The Dutch Concentration Line dalam The Dutch Colonial War In Aceh halaman 131-134.

Kebijakan Mayor Jendral AWP Weizel ini menimbulkan pro kontra di kalangan Belanda sendiri. Hal ini seakan mensahihkan bahwa Belanda benar-benar tak dapat mengendalikan suasana di Aceh. Meski demikian karir Weizel tidak jatuh, ia malah kemudian sempat menjadi Menteri Peperangan dan Jajahan Kerajaan Belanda.

Lini konsentrasi ini merupakan cara dan upaya Belanda untuk menghindari perang berlanjut. Namun sikap defensif ini diolok-olok oleh pejuang Aceh dengan mengirim surat-surat ancaman dan ajakan berperang di tempat terbuka.

Salah satu contoh dari surat ancaman dan ejekan itu dikirim oleh Cut Ali, panglima perang pasukan Aceh di wilayah Aceh Barat. Ia mengirim surat ke bivak pasukan Beladan di Ladang Rimba yang dipimpin oleh Kapten Behrens. Bivak tersebut dibuat pagar tiga lapis, di dalamnya berdiam para tentara Belanda yang mulai putus asa.

Kepada Kapten Behrens itu Cut Ali mengatakan ia bersama 80 anggota pasukannya ada di suatu tempat, ia menyebut nama tempat dengan jelas dalam suratnya, mengajak Behrens untuk berperang di sana. Kalau Behrens tidak datang dengan sekurang-kurangnya 120 tentaranya, Cut Ali menyarankan Behrens untuk tidur saja di dalam bivaknya itu. Tentang itu bisa dibaca dalam buku Atjeh halaman 370, buku itu ditulis  mantan perwira militer Belanda HC Zentgraff, yang setelah pensiun dari militer beralih menjadi redaktur Java Bode di Batavia.

Menurut keterangan HC Zentgraaff, surat-surat bernada ejekan dan ajakan berperang itu, terus saja dikirim secara berkala oleh Cut Ali dan pasukannya. Dan pasukan Belanda tak pernah menanggapinya, hingga kemudian Cut Ali merasa sudah waktunya untuk “pensiun” sejenak dari perang dan mengangkat salah satu bawahannya menjadi panglima muda.

Adalah Teuku Nago yang kemudian mendapat kesempatan itu. Tapi untuk naik jabatan menjadi panglima muda, bawahan langsung Cut Ali, maka orang itu harus “dipelonco” dulu, harus membuktikan bahwa dirinya layak untuk jabatan itu. Pembuktiannya harus dilakukan dengan membunuh patroli Belanda.

Cut Ali pun merancang skenarionya. Pasukan Belanda yang tak bisa dipancing keluar dengan olok-olok dan ajakan perang, akan diserang ketika mereka berpindah dari satu bivak ke bivak lain. Namun perpindahan pasukan Belanda itu tak bisa diterka, karena bisa jadi mereka berlama-lama mengurung diri dalam bivak, bisa juga dalam suatu waktu berpindah ke bivak lini konsentrasi lain.

Demi mendapat jabatan terhormat itu, Teuku Nago membawa beberapa pasukan. Mereka mengintai di luar bivak. Pengintaian dilakukan dengan sabar. Hingga tibalah waktu yang dinanti, pasukan Kapten Behrens bergerak keluar bivak. Teuku Nago dan pasukannya mengikuti dengan seksama, ketika sampai di perkarangan sekolah di kampung Teureubangan, serangan dilakukan.

Pasukan Behren kocar kacir malarikan diri dalam gelap malam. Teuku Nago berhasil membunuh Letnan Molenaar bawahan Behrens. Ketika suasana sudah aman, jenazah Letnan Molenaar diambil untuk dibawa ke bivak.

Saat jenazah itu digotong di jalan desa, seorang penduduk menjumpai Kapten Behrens, kepadanya diserahkan sepucuk surat dari Cut Ali, lagi-lagi surat olok-olok dan ajakan berperang secara terbuka di suatu tempat. Kapten Behrens tak pernah benar-benar punya keberanian untuk menjawab tantangan itu.[Iskandar Norman]