SEKALI waktu malam pernah bertanya pada siang, siapa yang dulu ada.
“Mungkin aku” Jawab malam.
“Sebab, sebelum matahari ada aku mewakili wujud luar semesta” lanjut malam. Siang tidak menjawab, mungkin ia berfikir.
Keduanya sering berbagi dialog diantara jeda waktu, saat kelopak mata malam terbuka dan pagi membentangkan tangannya. Hingga siang beranjak, malam segera menjauh. Terkadang malam dan siang hanya berpapasan saja sambil melepas lambaian dan memberi isyarat tentang warna kemanusiaan saat itu.
Aku sering mendengar percakapan malam dan siang, saat mereka sempat mampir di sela waktuku, keduanya tampak harmoni. Tak ada terlihat kesan angkuh dari keduanya. Agaknya mereka telah bersahabat lama, jauh sebelum aku bertemu mereka berdua.
Pernah mereka membincangkan firman Tuhannya yang bisa saja menjadikan malam terus menerus atau bahkan menjadikan siang seterusnya hingga kiamat.
Keduanya mengingatkanku betapa Allah Pencipta dan Pengatur mereka begitu kuasa dan bijaksana. Sebab menundukkan malam dan siang bukanlah perkara kecil. Keduanya sangat terkait dengan peta kosmos dan semua unsur yang melingkupinya, seperti gelombang energi dan pergantian musim serta muatan waktu yang bergerak habis menuju akhir.
Demikianlah, aku sering juga melihat malam dan siang berpelukan dalam peran yang mereka ambil, saat malam memintal lelah dan menghimpun massa doa. Sedang siang berdiri tegak optimis menatap gelagat takdir atas atas setiap makhluk, termasuk takdir bagi persahabatan keduanya.[]
Taufik Sentana
Peminat sains dan kreativitas. Menetap di Meulaboh.



