BANDA ACEH – Aceh akan menggelar pilkada serentak pada 2017. Persiapan pilkada yang dimulai tahun 2016 diperkirakan ikut mendorong peningkatan konsumsi, sehingga turut memberi andil terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh tahun ini. Di sisi lain, pilkada serentak tersebut memiliki risiko menghambat pertumbuhan jika konsentrasi kontes demokrasi membuat proyek-proyek pemerintah terbengkalai.

Berdasarkan data diperoleh portalsatu.com, 6 Maret 2016, Bank Indonesia (BI) memperkirakan, perekonomian Aceh pada triwulan I 2016 akan tumbuh positif antara 2,68 persen dan 3,68 persen. Secara keseluruhan tahun 2016 diperkirakan mengalami pertumbuhan antara 2,65 persen dan 3,65 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan perekonomian Aceh tahun 2015 yang mengalami kontraksi 0,72 persen.

“Sumber pertumbuhan ekonomi Aceh pada triwulan-I 2016 diperkirakan akan berasal dari pengeluaran konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah seiring dengan peningkatan konsumsi menjelang persiapan pilkada serentak 2017,” demikian keterangan BI terkait pertumbuhan ekonomi Aceh dalam hasil “Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Aceh Triwulan IV 2015”, yang dipublikasikan lewat laman resmi BI.

Dari sisi penawaran, menurut BI, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan diperkirakan masih menjadi sektor yang memacu pertumbuhan ekonomi Aceh di tengah risiko penurunan harga komoditas dunia. Dari sisi permintaan, keseimbangan internal dan eksternal yang baru diperkirakan kembali terbentuk seiring dengan permintaan domestik yang masih tetap kuat serta meningkatnya ekspor komoditas nonmigas.

BI menyebut permintaan domestik yang kuat diperkirakan ditandai dengan peningkatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah yang meningkat. Peningkatan konsumsi rumah tangga dan pemerintah masih mengandalkan APBA Aceh yang diperkirakan akan meningkat pada tahun 2016. Oleh karena itu, pertumbuhan pada tahun 2016 tergantung dari seberapa besar realisasi APBA di tahun 2016.

“Agenda pilkada serentak di Aceh pada tahun 2017 merupakan salah satu faktor yang mendorong peningkatan pertumbuhan komponen konsumsi di tahun 2016 karena berdasarkan historisnya, kegiatan kampanye dan persiapan pilkada akan memberikan dampak terhadap peningkatan konsumsi,” tulis BI.

Dengan kondisi optimis ini, BI melanjutkan, pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan pemerintah pada triwulan I 2016 masing-masing di perkirakan sebesar 3,28 persen dan 4,95 persen. “Namun, disisi lain, pilkada serentak ini juga memiliki risiko menghambat pertumbuhan jika konsentrasi pilkada membuat proyek-proyek pemerintah pada tahun 2016 menjadi terbengkalai.”[] (idg)