LAMPUNG – Bank Indonesia mendorong pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan berbagai kegiatan dilakukan dalam rangka Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Sumatera Tahun 2025, di Lampung City Mall pada 21-25 Juni.

Selama lima hari City Mall dimeriahkan festival tersebut seperti tolkshow model pemberdayaan usaha syariah, training of trainers dai dan dayah, serasehan pondok pasantren-penguatan kemandiri ekonomi, halal shef competition, lomba fashion, kemandirian ekonomi pasantren melalui halal value chain, mengahdirkan stan dari 12 Kantor Perwakilan BI Regional Sumatra, dan sejumlah event lainnya.

Tidak kalah menarik turut dimeriahkan talkshow FESyar mengusung tema “Sinergi Pesantren dan UMKM menuju Ekosistem Ekonomi Halal Berkelanjutan”. Acara dipandu moderator Dr. Damanhur Abbas, Lc., M.A., menampil dua pemateri andal yakni CEO Capli, Yuliana, S.Kom., dan Kiai H. Yusri Lubis sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Darul Mursyid, tamatan Gontor Ponorogo dan pernah mengabdi sebagai guru di pesantren Darul Arafah Medan. Ia juga membuka Pesantren Darul Mursyid di Sibolga, Sumatera Utara.

Yuliana menceritakan pengalamannya dalam mengembangkan UMKM yang memproduksi cabai sambal hijau khas Aceh. Dia pernah gagal 17 kali, dan sekarang usahanya mempunyai kapasitas produksi sambal cabai 10 ribu botol perbulan, mulai dari usaha rumahan hingga mempunyai pabrik sendiri.

Usaha sambal capli (cabai) itu merupakan salah satu UMKM binaan Bank Indonesia Perwakilan Banda Aceh, mengangkat produk yang sering menjadi penyumbang bagi inflasi.

Awalnya, Yuliana menjadi tim survei inflasi dari Bank Indonesia (BI). Dia sering mendengarkan keluhan dari petani saat mereka panen besar dan harga jual mengalami penurunan karena melimpahnya hasil produksi petani.

“Maka muncullah ide untuk menampung hasil produksi petani. Seiring berjalan waktu saya mendapatkan berbagai pelatihan dan peralatan yang canggih sehingga dapat meningkatkan hasil produksi,” kata Yuliana saat tampil di FESyar, Sabtu, 21 Juni 2025.

Yuliana menyebut ilmu pengetahuan yang dimilikinya disalurkan kepada petani, sehingga banyak para petani binaan di bawah naungannya. Selain itu, juga membantu pesantren menciptakan bisnis di kalangan pesantren untuk ketahanan ekonomi. Dia juga telah melakukan kerja sama dengan beberapa pesantren untuk membudidaya cabai rawit.

“Karena saus cabai rawit menghadirkan cita rasa yang unik, karena ada bahan baku asam sunti. Sehingga produk ini sangat diminati oleh masyarakat khususnya pecinta rasa pedas,” ungkap Yuliana.

Belajar ke Takengon

Sementara itu, Kiai H. Yusri Lubis, menyampaikan pesantren yang dipimpinnya mempunyai 10 unit usaha. Setiap usaha memiliki tenaga profesional yang bersertifikasi. Usaha yang menjadi primadona adalah kopi arabica dengan penghasilan dalam satu tahun senilai Rp19 miliar. Bahkan pasar kopi mereka sudah tembus Eropa seperti Swiss. Adapun terbesar untuk wilayah Asia Tenggara seperti Brunai Darussalam.

“Mulanya saya belajar kopi ke Takengon, Aceh Tengah. Lalu menghadirkan tenaga ahli dari Gayo selama dua tahun untuk membina masyarakat di pesantren. Luas kebun kopi yang dimiliki oleh koperasi pesantren 15 hektare yang beranggotakan muslim dan non-muslim. Inilah yang dinamakan Islam sebagai rahmatan lill ‘alamin,” kata Kiai Yusri.

Kiai Yusri menyebut bukan hanya orang Islam yang mendapatkan manfaat dari hasil usaha tersebut, namun bagi saudara sebangsa dan setanah air yang mempunyai kiblat dan cara doa yang berbeda juga mendapatkan manfaatnya.

“Kita mengedepankan pembinaan bagi anggota baik pembinaan ilmu pengetahuan maupun pembiayaan. Sehingga koperasi memberikan pembiayaan yang berkelanjutan, dua tahun, dan petani baru akan mengembalikan pinjaman setelah panen,” ujar Kiai Yusri.

Menurut Kiai Yusri, dengan adanya usaha di pesantren, maka sangat dirasakan manfaat oleh semua pihak baik guru maupun anggota koperasi. Guru bisa mendapatkan rumah tempat tinggal yang dibiayai dari hasil koperasi pesantren. Begitu juga dengan masyarakat yang tidak perlu mengeluarkan biaya mulai dari proses awal hingga panen.

“Kita berharap semoga semakin banyak UMKM dan pesantren yang terus memberikan manfaat, baik secara finansial maupun ilmu pengetahuan kepada masyarakat,” ucap Kiai Yusri.[]