BANDA ACEH – PT Perta Arun Gas (PAG) memproyeksikan peningkatan laba bersih mencapai US$27 juta pada tahun 2018, meningkat dari realisasi 2017 senilai US$24,59 juta.
Sebagaimana diketahui, anak usaha PT Pertamina Gas (Pertagas) itu mengelola bisnis regasifikasi gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dan menjadi operator fasilitas kilang LNG Arun di Lhokseumawe sejak 2015.
Dikutip dari bisnis.com, 6 Februari 2018, peningkatan laba bersih PAG tahun ini berasal dari proyeksi penambahan pengolahan gas seiring dengan rencana pengembangan fasilitas kilang LNG Arun. Penambahan fasilitas pengolahan rencananya dilakukan setelah adanya pengembangan fasilitas LNG hub atau terminal di kilang LNG Arun.
“Target ditingkatkan karena ada pengembangan di LNG Hub. Kalau hub jalan, kan bisa naik. Kargo LNG yang regas tidak semata-mata untuk PLN saja, kalau hub jalan bisa dari LNG mana pun,” kata Direktur Operasi dan Teknik PAG, Budiyana, dalam disuksi “Outlook dan Infrastruktur Gas 2018”, Jumat pekan lalu.
Budiyana menjelaskan, dengan adanya peningkatan kemampuan kilang dalam menerima LNG, volume pengolahan atau regasifikasi juga ditargetkan meningkat menjadi 43.963 BBtu dibandingkan dengan realisasi tahun lalu 42.132 BBtu dari target 40.296 BBtu.
PAG menargetkan 16 kargo LNG dari kilang Tangguh, Papua, tetapi itu juga bisa berubah dan berpotensi meningkat. “Kargo tetap, target ditentukan di awal tahun, tetapi kargo juga masih sementara, apalagi kalau hub jadi,” ujar Budiyana.
Kinerja PAG tahun lalu dilaporkan cukup positif dengan tercapainya berbagai rencana, bahkan melebihi target. Misalnya, pasokan gas ke beberapa konsumen gas selain PT PLN (Persero), di antaranya ke PT Kertas Kraft Aceh (Persero) untuk pembangkit listrik dan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM). Sementara realisasi produksi sulfur mampu mencapai 8.417 ton. Untuk kondensat sebesar 772.294 BBLS.
Budiyana menyebutkan, rencananya aktivitas regasifikasi PAG kemungkinan meningkat jika rencana perubahan penggunaan bahan bakar kapal pembangkit listrik Karadeniz Powership Onur Sultan atau Marine Vessel Power Plant (MVPP) milik Turki yang disewa PLN jadi terealisasi.
Kapal tersebut memiliki 19 mesin dimana masing-masing mesin akan membutuhkan gas sekitar 5 MMSCFD. Jika jadi berubah, otomatis regasifikasinya akan dikerjakan Perta Arun Gas karena perusahaan telah menandatangani Head of Agreement (HoA) dengan PLN untuk mengolah LNG milik PLN.
“Kami sudah HoA dengan PLN jadi regas kita itu milik PLN. Jadi kami hanya regasin saja. Satu enginee 5 MMSCFD, sementara mesin ada 19 targetnya harusnya akhir tahun kemarin tapi belum terealisasi,” kata Budiyana.
Untuk diketahui, Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) sudah menandatangani sewa aktiva Kilang LNG Arun dengan PT PAG, Senin, 18 Desember 2017. Melalui perjanjian itu, mulai tahun 2018, PAG akan mengelola Kilang LNG Arun dengan masa kontrak hingga 15 tahun mendatang. Perjanjian sewa aktiva LNG Arun dilakukan sebagai kelanjutan dari perjanjian sebelumnya yang masa kontraknya sudah habis. (Baca:PAG Lanjutkan Pengelolaan Kilang Arun Lhokseumawe)
Catatan portalsatu.com/, Presiden Jokowi meresmikan pengoperasian Terminal Penerima dan Regasifikasi LNG Arun di Blang Lancang, Lhokseumawe, 9 Maret 2015. Peresmian itu merupakan proses regasifikasi awal satu kargo LNG yang diterima pada 19 Februari 2015 dari fasilitas Tangguh LNG di Papua. Artinya, masa operasional regasifikasi yang dikelola PAG sudah tiga tahun.
Namun, Pemerintah Aceh melalui Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA) belum memanfaatkan peluang kepemilikan saham di PAG. Padahal, berdasarkan perjanjian awal, PT Pertamina (Persero) berhak memiliki saham 70 persen, dan sisanya (30 persen) dapat dimiliki Pemerintah Aceh melalui PDPA sebagai Badan Usaha Milik Aceh (BUMA). Lantaran belum adanya saham PDPA di PAG, maka Pemerintah Aceh tidak akan memperoleh dividen dari bisnis yang dikelola anak Pertagas itu.[]





