Wali Kota Lhokseumawe Suaidi Yahya dan Wakil Wali Kota Yusuf Muhammad mengadakan pertemuan dengan puluhan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), difasilitasi Bappeda Lhokseumawe, Senin, 9 November 2020.
Dalam pertemuan di Open Plan Presentation (OPP) Room Lantai Dua Gedung Bappeda Lhokseumawe itu semua yang hadir tampak memakai masker. Namun, sebagian di antaranya memasang masker di dagu.
Selain itu, peserta pertemuan tampak duduk rapat atau tidak menjaga jarak. Pasalnya, jumlah pelaku UMKM yang hadir melebihi kapasitas ruangan pertemuan. Bahkan, beberapa pelaku UMKM terlihat harus duduk di luar ruangan lantaran di dalam sudah penuh.
Bappeda Lhokseumawe mengundang para pelaku UMKM di kota ini untuk membahas pengembangan potensi dan perluasan pemasaran produk. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat, pengembangan potensi UMKM serta mendukung mewujudkan kemandirian ketahanan pangan selama pandemi Covid19.
Dalam pertemuan itu terungkap banyak UMKM di Lhokseumawe menghasilkan produk kuliner hingga kerajinan tangan kreatif. Namun, pelaku UMKM kesulitan memasarkan produk mereka.
Hasil pertemuan tersebut, Kepala Bappeda Lhokseumawe Salahuddin menyimpulkan bahwa potensi produk unggulan di kota ini luar biasa. Yakni produk kuliner, fashion, usaha tani, kerajinan tangan kreatif, tas, sandal dan sepatu, daun kelor, ikan keumamah dengan berbagai macam varian rasa, udang, bileh crispy, dan lainnya.
Pemko Lhokseumawe sesuai arahan dan kebijakan yang disampaikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota dalam pertemuan itu bahwa untuk para pelaku UMKM akan diberikan pelatihan berbasis aplikasi, stimulus ekonomi, memanfaatkan rumah packing yang telah ada, dan kemudahan perizinan/gratis.
Selain itu, pembangunan gerai/kios untuk produk unggulan di Kecamatan Muara Satu, akan bekerja sama/bermitra dengan pihak supermarket, dan lainya untuk memasarkan produk UMKM lokal, serta bantuan modal usaha.
“Dengan tujuan untuk penguatan ekonomi Kota Lhokseumawe,” ujar Salahuddin.
Ditanya berapa jumlah pelaku UMKM yang hadir dalam pertemuan itu, Salahuddin mengatakan lebih 60 orang.
Menurut Salahuddin, pihaknya mengundang pelaku UMKM sesuai kapasitas ruangan pertemuan (OPP Room Bappeda). “Yang hadir melebihi kapasitas undangan. Antusias peserta pelaku UMKM sangat luar biasa,” tuturnya.
“Normal 50 – 60 orang (kapasitas ruangan pertemuan, tapi yang hadir lebih dari itu),” kata Salahuddin.
Artinya, jika peserta pertemuan itu menjaga jarak tempat duduk, maka hanya separuh dari jumlah yang hadir itu yang berada di dalam ruangan.
Salah seorang pelaku UMKM usai mengikuti pertemuan itu menyarankan agar ke depan Bappeda menyiasati lokasi lainnya yang lebih banyak daya tampung apabila mengadakan pertemuan seperti ini. “Kalau banyak yang hadir sebaiknya lokasi dialihkan ke Aula Kantor Wali Kota. Sehingga selain wajib memakai masker, juga dapat menjaga jarak tempat duduk, sesuai protokol kesehatan,” ujar pelaku UMKM yang enggan namanya ditulis.
Menurut dia, pertemuan itu sangat penting karena mencari solusi atas permasalahan dihadapi para pelaku UMKM di Lhokseumawe. Dengan harapan perekonomian kota ini ke depan kembali bangkit. Namun, semua pihak tetap harus menerapkan protokol kesehatan secara maksimal guna mencegah penyebaran/penularan wabah Covid-19.[Irm]





