SIGLI – Hampir 70 persen areal persawahan di Kabupaten Pidie dimanfaatkan para petani untuk menanam padi pada musim tanam gadu (MT-Gadu) tahun ini. Padahal kuota yang diizinkan pemerintah untuk tanam gadu sekitar 60 persen dari luas lahan. Inisiatif ini dilakukan warga karena perubahan iklim.

Dari 24.787 hektare luas lahan yang tersebar di 22 kecamatan, sekitar 17.360 hektare digarap petani pada musim gadu. Saat ini kondisi tanaman padi sangat baik karena ketersediaan air yang cukup. Bahkan ada di sejumlah lokasi sudah mulai panen dengan hasil produksi hampir sama musim tanam rendengan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pidie, Sofyan Ahmad, kepada portalsatu.com, Jumat, 19 Juni 2020, mengatakan, musim tanam gadu kali ini lahan yang dimafaatkan warga untuk menanam padi meningkat 10 persen dari tahun – tahun sebelumnya. Hampir 70 persen luas lahan ditanami padi dengan kondisi tergolong subur.

“Untuk musim tanam gadu, Dinas Perkerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pidie memberikan rekomendasi sekitar 55 hingga 60 persen luas lahan. Hal itu lantaran tidak cukup air. Akibat perubahan iklim dari musim kering bergeser ke penghujan membuat minat masyarakat bertambah untuk menanam padi,” terang Sofyan.

Rekomendasi PUPR terhadap pembatasan musim tanam gadu, dikarenakan debit air berkurang dan kondisi saranan pengairan yang sudah tua sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan air bagi petani.

Adapun daerah yang biasanya tidak bisa ditanami padi pada musim gadu dan pemerintah pun tidak merekom seperti kawasan Kecamatan Padang Tiji, Batee, Muara Tiga, karena kawasan tersebut lahan tadah hujan. Sedangkan Kembang Tanjong, Simpang Tiga, Pidie dan Grong-Grong direkomendasi karena debit air sungai kawasan itu berkurang.  

“Curah hujan tinggi selama ini membuat kawasan itu yang biasanya menanam palawija, sekarang menanam padi,” pungkas Kadis Pertanian Pidie.[]